Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) telah merampungkan masukan dari industri perbankan ke dalam sebuah laporan yang diteruskan ke BI tentang perkembangan dan kendala yang dialami dalam program ini.
"Jadi memang pada prinsipnya, persiapan sekarang sudah ada perkembangan, beberapa bank sudah siap, hanya juga ada mengalami tantangan," kata Darmadi Sutanto, Ketua Umum ASPI kepada detikFinance, Kamis (26/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bank dengan nasabah besar seperti buku 4 mencetak kartu dan distribusikan sangat mepet untuk mencapai deadline akhir tahun," jelasnya.
Ambil contoh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Setiap hari bank pelat merah ini hanya mampu mencetak 20 kartu per kantor cabang. Artinya dengan nasabah sebanyak 13,5 juta tidak akan cukup waktu selama 9 bulan ke depan.
"Itu sudah perkirakan bahwa waktunya sudah sangat mepet hanya untuk cetak kartu ditambah mendistribusikannya. Itu tantangan yang bisa dikatakan sulit sekali dan ini sudah disampaikan dalam diskusi dengan BI," jelasnya.
Kendala lain adalah dari sisi sertifikasi vendor. Dalam catatan ASPI, baru ada 3 vendor untuk ATM dan 2 vendor untuk EDC (Electronic Data Capture). Vendor berfungsi untuk memperbaharui atau upgrading sistem pada mesin.
"Sebelum mereka disertifikasi mereka nggak bisa meng-upgrade ATM atau mesin EDC," terang Darmadi.
Untuk proses upgrade, harus dilakukan pada masing-masing mesin. Karena teknologi yang ada sekarang tidak cukup untuk memproses perubahan sistem dari jaringan pusat.
"Karena men-upgrade mesin harus di mesinnya. Begitu juga dengan EDC. Ada ratusan dan itu harus didatangi. Kalau ada puluhan bank yang datang pada waktu bersamaan dan meminta ATM atau EDC di-upgrade dengan deadline sebelum akhir tahun, vendor itu siap atau tidak," tukasnya.
(mkl/ang)











































