Pada 28 Maret, pemerintah menaikkan harga BBm jenis premium jadi Rp 7.300/liter di luar Jawa-Madura-Bali, dan Rp 7.400/liter di Jawa-Madura-Bali. Sedangkan solar naik dari Rp 6.400/liter menjadi Rp 6.900/liter.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, diperkirakan inflasi di Maret tak terlalu tinggi. Bulan sebelumnya justru tercatat deflasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menegaskan, pihaknya mendukung penuh pemerintah, yang bisa secara konsisten mengalihkan subsidi BBM ke pos produktif seperti infrastruktur.
"Dulu tidak produktif karena subsidi tidak digunakan oleh rakyat kecil yang membutuhkan, tetapi (pemerintah sekarang) dialihkan untuk fungsi-fungsi yang lebih produktif. Seperti hari ini, ada fasilitas kesehatan di RSI Jemursari, ada BPJS, ini juga karena pemerintah bisa mengalihkan uang anggaran yang tadinya dipakai subsidi BBM, dialihkan untuk kesehatan dan ini langsung bermanfaat untuk rakyat kecil," tuturnya.
Agus yakin masyarakat bisa menerima kenaikan BBM, karena dengan skema melepas harga BBM ke pasar, maka ada peluang harga BBM kembali turun mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
"Ini akan membuat inflasi dari Indonesaia di Tahun 2015 akan ada di kisaran tetap 4% +- (plus minus) 1%. Jadi kalau ada kenaikan harga itu sesuatu yang wajar karena tidak terlalu tinggi. Tetapi nanti kalau harganya turun itu juga harga BBM akan turun," terangnya.
Ia menambahkan, bantuan sosial sudah dialokasikan oleh pemerintah dalam bentuk program kesejahteraan rakyat yang sudah direncanakan pemerintah.
"Dan rencana kesejahteraan rakyat itu akan tepat sasaran, karena akan diberikan bantuan langsung kepada rakyat yang memerlukan," ujarnya.
Agus juga mengatakan pemerintah telah melakukan langkah positif antara lain bisa menekan defisit neraca transaksi berjalan. "Dan ada perbaikan dari transaksi berjalan yang saat ini defisit, agar defisitnya tidak melebihi 3%," jelasnya.
(roi/hen)











































