Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, pertumbuhan ekonomi dunia saja yang awalnya ditargetkan 3,8% malah direvisi menjadi 3,4% saja.
"Artinya kondisi di dunia dalam proses pemulihan, tapi pemulihannya pelan. Itu ditandai Amerika yang 4-5 tahun memulihkan ekonominya, menggelontorkan uang murah ke seluruh dunia," kata Agus dalam acara Transaksi Lindung Nilai (Hedging) di Kompleks BI, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain global dan AS, lanjut Agus, ekonomi China yang selama ini selalu yang tertinggi di antara negara lain kini hanya naik 6,8% dari sebelumnya selalu di atas 7%.
"Bayangkan China yang ekonominya begitu besar itu menjadi pelan," kata Agus.
Agus menambahkan, ekonomi Rusia di 2015 malah minus 3,8%. India yang baru sukses menggelar pemilu saja hanya tumbuh 6,4%, meleset dari target 7,5%.
Melambatnya ekonomi ini akan mempengaruhi nilai tukar sebuah negara. Maka dari itu penting dilakukannya hedging alias asuransi valuta asing (valas) bagi perusahaan yang selama ini memakai valas dalam beroperasi.
"Di Indonesia perusahaan yang memakai valuta asing itu 70% membeli tunai valuta asing. Kalau semuanya membeli tunai tak dilakukan lindung nilai atau nggak ada instrumen untuk mengatur dalam membeli atau menjual dalam waktu tertentu, itu akan memberikan tekanan dan membahayakan stabilitas sistem nasional," jelasnya.
(ang/dnl)











































