Plt Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Fauzi Ichsan mengatakan, meski ekonomi melambat, namun kondisi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan saat krisis keuangan global menghantam pada 2008/2009 lalu. Saat krisis 2009 saja, Indonesia mampu tumbuh 4,5%.
"Sekarang CAR (Capital Adequacy Ratio/Rasio Kecukupan Modal) perbankan lebih tinggi, di kisaran 19%. Jadi jauh lebih kuat daripada krisis keuangan global yang dulu," jelas Fauzi, saat ditemui usai menghadiri open hous di kediaman Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (18/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan di Indonesia saat ini juga masih rendah yaitu 2-3%. Besaran NPL bisa ditekan di bawah 3% bila pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5%.
Kenapa NPL bank naik? Fauzi mengatakan, ada beberapa bank yang naik NPL-nya karena turunnya harga komoditas, seperti batu bara dan sawit. Penurunan harga komoditas membuat perusahaan komoditas berkurang kemampuannya untuk membayar kredit bank. Sehingga bank yang banyak memberi kredit ke sektor ini naik NPL-nya.
"Ada yang karena pembangunan infrastruktur lambat, sementara konstruksi terhambat NPL naik, jadi tiap bank punya eksposur yang beda-beda. Bagi bank yang eksposur besar pada komoditas memang harus lakukan revisi NPL dan melakukan rights issue, yang NPL besar. Tapi bagi bank yang kena ekposur karena infrastruktur, harapannya sama pembangunan infrastruktur sisa tahun ini dan tahun depan akan bisa membantu tekan NPL," papar Fauzi.
Karena itu menurut Fauzi, kenaikan NPL bank bukan karena bunga kredit yang tinggi, tapi karena perlambatan ekonomi. Meski bunga kredit turun di tengah kondisi ekonomi yang turun, NPL tetap bisa naik.
"Jadi sekarang kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi harus dipercepat, antara lain dengan pembangunan proyek infrastruktur. Bukan sesuatu yang baru," katanya.
Dia mengatakan, ancaman ekonomi dari luar negeri saat ini mulai berkurang. Karena krisis utang Yunani perlahan sudah mulai selesai. Sekarang, yang diharapkan pelaku ekonomi adalah percepatan pembangunan infrastruktur. Jadi daya serap APBN menjadi kuncinya.
Kemarin, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, hingga H-1 lebaran, pemerintah sudah membelanjakan anggaran Rp 820 triliun. Ini berarti 41% anggaran digunakan, dari total APBN-P 2015 yang sebesar Rp 1.984,1 triliun.
Sementara soal perlambatan ekonomi di China, menurut Fauzi, tidak akan emmicu resesi ekonomi dunia. Dampaknya hanya pada turunnya harga komoditas.
"Karena lihat ekonomi global masih 7%. China melambat kan ada Eropa, Jepang, AS mereka masih relatif bagus," jelasnya.
(dnl/dnl)











































