Hingga semester I-2015, tercatat pertumbuhan bisnis Kredit Pemilikan Rumah (KPR) baru 1,2% menjadi Rp 33,09 triliun. Sementara, KPR merupakan kontribusi terbesar mencapai 61,9% di semester I-2015.
Direktur Konsumer Banking BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, di tengah melambatnya KPR, potensi kredit kepada karyawan dinilai potensial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, dengan adanya kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan batasan Loan To Value (LTV), biaya uang muka atau Down Payment (DP) KPR menjadi lebih murah sehingga bisa mendorong permintaan KPR.
"Dengan kebijakan ini maka orang yang punya keterbatasan uang muka bisa ngajuin KPR. Kami berharap ini bisa menggairahkan," ucap dia.
Dengan itu, Anggoro memperkirakan, pertumbuhan KPR di tahun ini bisa mencapai 8-12%.
"Kami harap 8-12% sampai akhir tahun. Kenapa nggak serta merta langsung naik ke 12-15%? Karena kondisi ekonomi yang nggak terlalu baik dan masih ada ketentuan inden, sehingga akan sulit juga. Jadi kami harap inden bisa direlaksasi juga," sebut dia.
Anggoro menambahkan, selain menggenjot bisnis kartu kredit dan kredit payroll untuk mengantisipasi lesunya bisnis properti, dimungkinkan adanya penurunan suku bunga KPR.
"Kalau pun mainin suku bunga tapi selected developer," katanya.
(drk/ang)
