"Likuiditas perbankan Indonesia masih sangat kuat dan tidak ada permasalahan," tegas Deputi Komisioner Bidang Perbankan OJK Irwan Lubis di kantornya, Jakarta, Rabu (26/8/2016)
OJK akan memantau setiap waktu posisi dari perbankan. Begitu juga dengan profil risikonya. Untuk jangka menengah dan panjang maka akan dilakukan stress test, agar bisa diantisipasi lebih dulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Total penyaluran kredit perbankan Rp 3.828 triliun atau 4,18% (year to date/ytd) dan 10,38% (year on year/yoy)
- Dana pihak ketiga Rp 4.319 triliun atau 4,99% ytd dan 12,65% yoy.
- Aset Rp 5.933 triliun atau 5,66% (ytd) dan 11,11% (yoy)
- Modal Rp 730 triliun atau 5,14% (ytd) dan 11,83% (yoy).
- Rasio Kecukupan Modal (CAR) 20,35%.
- Rasio modal inti 17,78%.
- Return on Assets (ROA) turun ke 2,29 % dari 3,13%.
- Return on Equity (ROE) masih di atas 18%
- Net Interest Margin (NIM) 5,32%
- Non Performing Loan atau kredit bermasalah 2,55%
Irwan menambahkan posisi NPL memang bergerak lebih tinggi. Hal ini karena perlambatan ekonomi yang terjadi secara menyeluruh. Khususnya bank dengan profil risiko di sektor komoditas dan pertambangan.
"OJK juga melakukan semua, mengantisipasi NPL. Bank bisa restrukturisasi kredit sebelum turun ke NPL. Bank bisa melalui relaksasi itu dia reconditioning. Sehingga angsuran lebih rendah dan negosiasi di bunga. Saya kira dengan adanya langkah antisipasi ini, OJK memberi ruang manajemen bank paling tidak bisa menahan drop sampai 0,3-0,5%," paparnya.
(mkl/hen)











































