Ini Alasan Investor Masih Melirik RI Layaknya Gadis Cantik

Ini Alasan Investor Masih Melirik RI Layaknya Gadis Cantik

Maikel Jefriando - detikFinance
Minggu, 06 Sep 2015 10:12 WIB
Ini Alasan Investor Masih Melirik RI Layaknya Gadis Cantik
Bandung - Kepanikan berlebihan dari investor beberapa waktu lalu membuat pasar keuangan menjadi goncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot cukup tajam dan rupiah masih melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Beberapa fakta perekonomian Indonesia memang seakan dikesampingkan. Karena mengikuti rumor di kondisi sekarang adalah fakta bagi investor.

Padahal sebenarnya investor masih sangat untung bila meletakkan dananya di Indonesia. Buktinya yield dari Surat Utang Negara (SUN) sekarang mendekati posisi 9%. Sementara obligasi AS atau US Treasury hanya sekitar 2,12%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga kalau melihat selisihnya, kita ada imbal hasil lebih besar. Ini merupakan suatu hal yang menarik. Ke mana lagi mencari pasar dengan yield bagus dan fundamental cukup baik," kata Rahmatullah, Kepala Divisi Operasi Valas, Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) dalam diskusi di Hotel Trans Luxury, Bandung, Minggu (6/9/2015).

Di samping itu pendalaman pasar keuangan di Indonesia sudah lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga meski ada gejolak sebesar ketika 2008 terjadi, Indonesia masih cukup kuat untuk bertahan.

Selanjutnya rata-rata kecukupan modal perbankan di Indonesia adalah 20,1%. Padahal standar Internasionalnya cukup 8%. Artinya kemampuan bank untuk menyangga ketika ada kerugian itu sangat tinggi.Loan to deposit ratio (LDR) perbankan Indonesia, masih 88,6%.

"Beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh BI seperti REPO dan mini repo juga mendorong ketenangan di pasar keuangan," terangnya.

Rahmat juga melihat beberapa investor yang juga tidak termakan rumor spekulan. Artinya sudah ada kedewasaan investor untuk menggerakkan dananya.

"Kita juga semakin dewasa. Mungkin ada yang meniupkan panik, tapi ada yang lebih realistis melihat keadaan," paparnya.

Politik juga menjadi salah satu yang dipertimbangkan bagi investor. Sekarang, pasca pemilihan umum (pemilu) dan terpilihnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampak tidak ada lagi gejolak yang terlalu mengkhawatirkan.

"Sisi pemerintah kan kita lebih demokratis, kalau mengingat 1998 kita memang agak problem," tegas Rahmat.

Pemerintah juga telah menjalankan berbagai kebijakan yang mendorong perbaikan struktur ekonomi. Salah satunya adalah pemangkasan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan dialihkan ke pembangunan infrastruktur. Meski agak terlambat, namun realisasi pembangunan infrastruktur akan mendorong ekonomi tumbuh tinggi.

"Kalau Sumatera ini punya tol, itu ekonomi Sumatera akan kencang. Sekaranga kenapa ekonomi AS tumbuh tinggi dan China juga bisa tumbuh tinggi, karena mereka bangun infrastruktur," pungkasnya.

(mkl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads