"Posisi NPL saat ini memang rendah, tetapi itu belum aman. Karena sudah mulai kelihatan nasabah kami yang cicilannya tersendat karena ekonomi lagi down. Kami tidak tahu akhir tahun seperti apa. Tetapi kami perkirakan NPL bisa naik ke 1,3% di akhir tahun nanti," ungkap Direktur Utama MTF Ignatius Susatyo dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikFinance, Rabu (9/9/2015).
Dia mengungkapkan, berbagai karakteristik nasabah saat ini. Ada nasabah dengan tipe mampu tetapi enggan mencicil, juga tipe mau mencicil tetapi kurang mampu atau nilainya tidak utuh lagi. Maka dari itu, kata Susatyo, pihaknya memberikan ultimatum kepada divisi collection perusahaan untuk mengambil tindakan tegas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susatyo menyebutkan, nasabah MTF yang aktif saat ini mencapai angka 300 ribu. Sebanyak 90% lebih adalah nasabah korporasi.
"Ritel memang sedikit, tetapi kalau macet, itu mengganggu kinerja," jelas Susatyo.
Dia mengakui, selain pelemahan ekonomi, ada proses approvel yang kurang sempurna di awal, sehingga menimbulkan NPL. Maka dari itu, lanjut dia, MTF menerapkan dua strategi utama dalam mengantisipasi pelonjakan NPL.
"Kami memiliki dua program utama yakni Mobile Survey dan Early Payment Default. Dua program ini menjadi andalan kami dalam menekan NPL. Mobile Survey mulai berjalan tahun ini. Sedangkan Early Payment Default sejak 3 tahun lalu," sebutnya.
Dia menjelaskan, melalui aplikasi Mobile Survey, petugas MTF dipantaui melalui teknologi GPS hingga lokasi nasabah, rumah atau kantor. Petugas lantas melakukan foto selfy untuk membuktikan bahwa kewajiban survey dilakukan dengan benar.
"Aplikasi ini membantu kami benar-benar selektif menyeleksi nasabah. Selanjutnya akan terus disempurnakan di cabang-cabang," ujar Susatyo.
Selanjutnya, MTF juga menetapkan strategi KPI (Key Performance Indicators) di tiap cabang untuk early payment default secara seragam untuk setiap nasabah.
"Jadi setiap petugas kami harus terapkan itu untuk setiap nasabah," kata Susatyo.
Dari sisi pendanaan, Susatyo mengatakan, MTF juga akan merevisi target pembiayaan lebih rendah dari target awal yang sebesar Rp 20 triliun.
"Kami koreksi 20% untuk penjualan. Tetapi untuk profit kami tetap optimis dengan 30% pertumbuhannya. Jadi kami tetap optimis dengan target laba Rp 300 miliar. Tetapi penjualan saya kira sulit capai Rp 20 triliun dengan kondisi saat ini," jelas dia.
Kendati demikian, dukungan pembiayaan dari Mandiri terus mengalir sebagai sumber pembiayaan utama MTF.
Ada pun, joint venture pembiayaan dari Bank Mandiri meningkat menjadi 90%, mendominasi beberap joint pembiayaan dengan bank lain.
Peningkatan dukungan pendanaan tersebut sejalan dengan kredit kepemilikan mobil (KPM) Bank Mandiri yang sepenuhnya dilimpahkan ke MTF.
Selain itu, sumber dana lain diperoleh melalui rencana penerbitan obligasi berkelanjutan di bulan September 2015 di kisaran Rp 500 miliar - Rp 750 miliar.
Menurut Susatyo, obligasi dirilis tidak terlampau besar untuk menghindari over likuiditas di saat kondisi pasar juga masih belum tenang.
"Kita kelola pinjaman dengan baik. DER (debt to equity) kita juga terus turun jadi 5,8% dari 6%," papar Susatyo.
Untuk tahun depan, lanjut Susatyo, MTF membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) di kisaran Rp 300 miliar hingga Rp 400 miliar. Capex tersebut untuk membiayai ekspansi bisnis seperti pembukaan cabang baru.
"Kami upayakan untuk mempunyai gedung sendiri supaya aset naik. Kalau sewa, biaya operasional akan naik. Tahun ini kami sudah punya 90 gedung milik sendiri. Tahun depan kami tambah 5 di beberapa kota besar seperti Makasar, Palembang, Lampung. Banjarmasin, Balikpapan," ujarnya.
Untuk target jangka panjang, Susatyo menyebutkan, di 2020 nanti MTF ingin menempati posisi terbaik, terbesar kedua untuk volume pembiayaan mobil baru dan juga perolehan laba.
"Jadi saat itu lending kami sudah di angka Rp 50 triliun hingga Rp 60 triliun per tahun, atau Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun tiap bulan," sebutnya.
Sementara itu, untuk mendukung pertumbuhan industri ke arah yang lebih baik, Susatyo mengusulkan stimulus OJK bagi perbankan diberikan lebih signifikan.
Ini terkait dengan suku bunga, pasalnya sumber pembiayaan utama industri multifinance adalah bank.
"Karena sulit untuk BI rate turun saat rupiah melemah saat ini. Yang memungkinkan beri stimulus ke bank supaya SBDK bisa diturunkan lagi, misalnya 50 basis poin. Kita siap untuk pangkas margin," ujar Susatyo.
(drk/ang)











































