Saat ini, nilai aset tetap atau fixed asset (tanah dan bangunan) milik bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu tercatat Rp 2 triliun.
βDengan memanfaatkan ini, kalau kita merevaluasi aset, kita bisa menambah Capital Adequacy Ratio (CAR). Saat ini fixed asset Rp 2 triliun, bisa meningkat menjadi Rp 8 triliun, jadi nambah Rp 6 triliun. Itu aset tanah dan bangunan,β ujar Direktur Utama BRI Asmawi Syam saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (10/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Total aset Rp 775 triliun tahun 2015. Yang diappraisal itu Rp 2 triliun. Kita manfaatkan tahun ini. Kita harapkan bahwa revaluasi aset yang dicanangkan pemerintah yang memberikan insentif sebesar 3% tahun ini kita akan manfaatkan sebesar-besarnya," terang dia.
Setelah dilakukan revalusi aset, Asmawi meyakini, kinerja perseroan akan semakin membaik. Aset perseroan meningkat akan mendorong kenaikan modal perseroan dan pada akhirnya bisa menyalurkan kredit lebih agresif.
"Kita nggak hanya bicara cost, impactnya kita menambah CAR berarti kan dalam memberikan lending, leverage kita akan meningkat, dengan leverage meningkat, kita harapkan laba BRI meningkat, kalau laba meningkat, kan balik lagi bisa bayar dividen dan pajak ke pemerintah, ini siklus yang baik ke pemerintah," pungkasnya.
Kejar Kapitalisasi Pasar di Atas Rp 500 triliun
BRI berambisi untuk bisa menjadi bank terbesar di Indonesia. Oaling tidak, ambisi tersebut bisa dicapai di tahun 2017 mendatang. Bank pelat merah ini akan terus menggenjot kinerjanya hingga sampai pada titik puncak menjadi bank terbesar di Indonesia.
Dalam usianya ke-12 tahun melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BRI melonjak 24 kali lipat, tentunya diikuti nilai kapitalisasi pasar (market cap).
Saat pertama kali melantai di BEI, saham berkode BBRI itu tercatat Rp 875 per lembar dengan kapitalisasi pasar (market cap) di angka Rp 11,47 triliun. Kini, harga saham BRI melonjak tajam hingga ke level Rp 10.575 per saham dengan nilai kapitalisasi pasar menembus Rp 263 triliun.
Dengan ambisinya menjadi the most valuable bank di tahun 2017, BRI akan terus meningkatkan nilai kapitalisasi pasarnya.
"Kita ngomongin soal value dari company. Di tahun 2017 kita akan melakukan satu periode corporate plan, 2017 BRI ingin menjadi the most valuable bank, catet ya, value-nya itu di mana ditaruh, market cap salah satunya, tetapi yang paling penting adalah menjaga fundamentalnya. Ada growth laba, aset, penyaluran loan, maka menyalurkan loan dan mencari dana yang harus kita lakukan. Kalau ada target market cap Rp 500 triliun, ya kita harus di atasnya,β jelas Wakil Direktur Utama BRI Sunarso di tempat yang sama.
Dia menjelaskan, menyongsong target besar di tahun 2017, perseroan akan mulai menggenjot kinerjanya di tahun depan. penyaluran kredit perseroan akan didorong mencapai angka 13% dengan pertumbuhan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengikuti pertumbuhan kredit.
Perolehan laba juga akan dinaikkan menjadi 5% di tahun depan, dari saat ini yang hanya tumbuh tipis di angka kisaran 1-2%. Target pertumbuhan laba sebesar 5% tersebut dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di tahun depan bergerak di angka 5,2%.
Pertumbuhan kredit tersebut tentu disalurkan dengan prinsip kehati-hatian. Angka kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) akan dijaga di level 2,5%.
"Target kredit kita harus disesuaikan, kredit 13% 2016, DPK mengikuti, kita jaga LDR maksimal 90%, sekarang 86,7%. Target laba lihat situasi global dan domestik, mungkin tidak seagresif tahun 2012-2013. Tahun depan target laba 5%, sekarang kan dengan pertumbuhan ekonomi 4,7-4,8%, laba kita tumbuh tipis 1-2%, tahun depan pencadangan dijaga di level aman, kita jaga di 150, NPL dijaga 2,5%, itu paling tidak kita mencerminkan utamakan selamet daripada agresif, tapi tetap tumbuh,β jelas dia.
(drk/ang)











































