Meski begitu, Direktur Utama BRI, Asmawi Sjam, belum mau memberikan angka kenaikan tersebut, karena masih menunggu hasil final.
"Semua indikator rasio dan angka-angka tumbuh. Aset, pinjaman, simpanan, laba tumbuh. Hanya NPL (rasio kredit bermasalah) yang turun, dari 2,2% menjadi 2% meski dalam kondisi perekonomian sulit," jelas Asmawi saat makan malam di rumah makan kawasan Menteng, Jakarta, Selasa malam (5/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain kinerja, BRI juga tengah mengejar aset di atas Rp 1.000 triliun. Ini tertuang dalam rencana bisnis BRI di 2017. "Kalau bisa tercapai lebih awal dari 2017 akan membanggakan, karena di ASEAN belum banyak bank yang asetnya Rp 1.000 triliun," jelas Asmawi.
Data terakhir di kuartal III-2015, jumlah aset BRI adalah Rp 775,8 triliun. Sejumlah cara dilakukan untuk meningkatkan aset, antara lain mengakuisisi perusahaan asuransi, dan juga lewat revaluasi aset meski jumlahnya tidak terlalu signifikan yaitu hanya skeitar Rp 8 triliun.
Untuk tahun ini, BRI mempunyai dua fokus utama, yaitu peningkatan kredit usaha rakyat (KUR) dan peluncuran satelit.
"Kami beli satelit untuk mempersatukan nusantara dengan sistem perbankan. Dulu Gajah Mada dengan Sumpah Palapa, kami ingin menyatukan dengan sistem perbankan. Nasabah kami tidak hanya di kota tapi juga di desa. Kami punya motto melayani yang belum terlayani dan menjangkau yang belum terjangkau," jelas Asmawi.
Soal satelit yang rencananya akan diorbitkan pertengahan tahun ini, Asmawi menerangkan, layanan BRI bakal makin prima.
"Beberapa kali kami dikomplain, kok BRI ATM-nya sering offline dan lemot. Itu semua karena komunikasi. Kami menggunakan 9 provider satelit, kadang bagus dan kadang bermasalah. BIla menggunakan satelit sendiri, maka kontrolnya di kami," papar Asmawi.
Selain itu, dengan satelit ada efisiensi biaya yang luar biasa. Selama ini, BRI harus mengeluarkan Rp 500 miliar per tahun untuk menyewa slot satelit. Sementara biaya untuk satelit sendiri adalah US$ 200 juta atau sekitar Rp 3 triliun dengan masa pakai 17 tahun. "Jadi ada efisiensi yang luar biasa. Yang terpenting, satelit memberikan layanan bank yang terintegrasi," kata Asmawi.
Saat ini BRI memiliki 22.000 mesin ATM yang tersebar. Satelit ini menjadi penting untuk peningkatan pelayanan.
Soal KUR, BRI akan menggenjot program kredit berbunga 9% ini. Dari alokasi yang diberikan pemerintah Rp 100 triliun, BRI memiliki porsi penyaluran Rp 70 triliun.
(dnl/ang)











































