Pertama, adalah perlambatan ekonomi China. Pada 2015, ekonominya hanya tumbuh 6,9% dan diperkirakan tahun ini akan turun ke level 6,3%. Dalam kurun lima tahun ke depan, rata-rata pertumbuhan ekonomi China 6,5%.
"China memang ada perlambatan karena memang di bidang manufaktur itu ada perlambatan," ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Kamis (28/1/2016)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yuan yang mungkin terus terdepresiasi, dan kondisi itu, bisa ke perdagangan, financial dan confident. Apalagi dengan kondisi harga komoditas yang turus turun, itu berdampak ke capital flow yang ada di dunia, tetapi kndisi secara finansial juga bisa kena. Karena depresiasi yuan itu berdampak ke depresiasi ke mata uang di negara berkembang lainnya," paparnya.
Ketiga, dari sisi perdagangan. Indonesia yang merupakan mitra utama dagang China akan terkena dampak, terutama dari sisi ekspor Indonesia.
"Banyak negara itu kepercayaan ekonominya berhubungan dengan China, kalau terkoreksi, itu khawatirnya ekonomi di negara lain juga terpengaruh," kata Agus. (mkl/hns)











































