Tren Suku Bunga Negatif di Dunia, Sudah Sepatutnya BI Rate Turun

Tren Suku Bunga Negatif di Dunia, Sudah Sepatutnya BI Rate Turun

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Jumat, 18 Mar 2016 10:35 WIB
Tren Suku Bunga Negatif di Dunia, Sudah Sepatutnya BI Rate Turun
Foto: CNBC
Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 bps menjadi 6,75%. Ekonom INDEF dan Kandidat Doktor Durham University Business School-Inggris Dzulfian Syafrian menilai, memang sudah sepatutnya BI rate turun.

"Karena selisih antara inflasi dan BI rate sudah terlalu lebar. Padahal, selama 2015 dan beberapa bulan terakhir, inflasi kita tergolong sangat rendah," ujarnya kepada detikFinance, Jumat (18/3/2016).

Pada bulan Februari 2016, Indonesia juga mengalami deflasi (Kontra-inflasi) yang berarti tekanan terhadap inflasi tentunya menjadi lebih longgar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data-data perekonomian selama bulan Januari-Februari 2016, seperti deflasi dan ekspor-impor, mengindikasikan perlambatan ekonomi sehingga diharapkan penurunan BI rate ini dapat menjadi stimulus moneter untuk mendongkrak perekonomian kembali.

Terlebih, pesimisme ekonomi 2016 juga mulai dirasakan oleh lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia (World Bank) yang telah memotong proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masing-masing 5,1% (Bank Dunia) dan 4,9% (IMF), di mana lebih rendah dibanding proyeksi Pemerintah sebesar 5,3%.

Nilai tukar rupiah juga tergolong stabil, cenderung menguat belakangan ini. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran BI akan capital outflow (modal keluar) berlebihan.

Tren negara-negara di dunia, kecuali AS, memang sedang memotong suku bunganya. Bahkan banyak negara, seperti Jepang, Denmark, Swedia, menerapkan kebijakan suku bunga negatif (negative interest rate policy) atau suku bunga kurang dari 0% dalam rangka memberikan stimulus pada perekonomian mereka yang sedang mandek, bahkan berpotensi resesi.

Oleh karena itu, penurunan BI rate ini sudah tepat karena memang ini yang harus dilakukan BI.

"Bahkan, jika indikator-indikator seperti yang saya jelaskan di atas masih tetap terjadi, ada peluang bagi BI untuk terus memangkas suku bunganya. Terlebih, saat ini perekonomian dunia sedang diancam masalah 'Deflasi Global' yaitu terjadi deflasi di banyak negara-negara di dunia, khususnya negara-negara maju seperti di Eropa dan Jepang," jelas dia.

Pemotongan suku bunga seperti ini, akan berdampak positif bagi perekomian nasional yang sedang lesu. Suku bunga yang lebih rendah akan mendorong pengusaha untuk berani ekspansi dan investasi.

Pun demikian, suku bunga Indonesia masih jauh kalah kompetitif jika kita bandingkan dengan Negara-negara tetangga karena tingginya suku bunga merupakan salah satu penyebab utama ekonomi berbiaya tinggi (High-cost economy) yang membuat perekonomian kita kalah saing dengan Negara-negara lain.

"Oleh karena itu, jika suku bunga masih terlalu tinggi seperti saat ini, bagaimana mungkin kita bisa bersaing dengan negara lain?," ujar Dzulfian. (drk/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads