BI Rate Sudah 3 Kali Turun, Agus Marto: Keempatnya Lebih Hati-Hati

BI Rate Sudah 3 Kali Turun, Agus Marto: Keempatnya Lebih Hati-Hati

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 08 Apr 2016 12:02 WIB
BI Rate Sudah 3 Kali Turun, Agus Marto: Keempatnya Lebih Hati-Hati
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Sepanjang tahun 2016, Bank Indonesia (BI) telah tiga kali berturut-turut menurunkan suku bunga acuannya atau BI rate. Secara keseluruhan, BI rate sudah turun 0,75% atau 75 basis poin (bps) yang sampai saat ini dipertahankan di 6,75%.

Gubernur BI, Agus Martowardojo mengungkapkan, keputusan kembali turunnya BI rate akan dilakukan dengan lebih berhati-hati ketimbang keputusan 3 kali penurunan sebelumnya di 2016.

Kalau BI kemarin lihat menurunkan tiga kali dan kita turunkan GWM (Giro Wajib Minimum) dua kali. Kita masih melihat sekarang ini di perbankan sedang ada satu transisi untuk bisa menyesuaikan tingkat bunga," ujar Agus ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Lapangan banteng, Jakarta, , Jumat (7/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"BI dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) kemarin di bulanan, bahwa kita apabila akan melakukan perubahan stance, akan kita lakukan dengan sangat hati-hati. Kita akan melakukan dengan sangat hati-hati, karena kita melihat bahwa memang semua tergantung dari tersedianya dan dukungan dari data, tetapi kondisinya sudah harus sangat hati-hati," tambahnya.

Agus menjelaskan, prinsip hati-hati dilakukan karena kondisi saat ini berbeda dengan saat 3 kali penurunan BI rate sebelumnya yang dianggap masih memiliki lebih banyak ruang moneter.

"Kalau ada keinginan untuk merubah stance, akan dilakukan dengan mengkaji secara sangat hati-hati. Berbeda dengan bulan sebelumnya yang kita bilang kita melihat ada peluang untuk melonggarkan moneter. Tapi kalau sekarang statement kita, kita perlu hati-hati," ungkapnya.

Mantan Dirut Bank Mandiri ini menuturkan, selain lebih berhati-hati dengan kondisi saat ini, pihaknya masih mengamati perkembangan stabilitas ekonomi dunia sebelum kembali menurunkan BI rate dalam waktu dekat.

"Namun kita harus perhatikan perkembangan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan dunia," tutup Agus. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads