Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Erwin Rijanto mengungkapkan, penyebab inflasi karena volatile food tersebut disebabkan adanya makelar atau tengkulak pada rantai pasok bahan pangan.
"Rantai produksi dan distribusi juga masih diwarnai oleh para pencari rente. Maraknya para pencari rente dalam sendi perekonomian pada gilirannya menyebabkan disinsentif masyarakat berproduksi," kata Erwin, di acara Apresiasi Kinerja Program Pengembangan Inflasi 2016 di kantor BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (25/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inflasi di Indonesia masih sangat bergantung dengan Tuhan atau cuaca. Jika ombak lagi tinggi, beberapa daerah mengalami lonjakan inflasinya sangat tinggi," ujar Erwin.
Erwin menuturkan, meski di 2015 tekanan inflasi cenderung rendah, perkembangan terakhir inflasi harga pangan justru mengalami peningkatan. Inflasi dari pangan tercatat sebesar 0,75%, atau naik dari bulan lalu yang mengalami deflasi 0,68%.
"Inflasi volatile food pada periode ini terutama bersumber dari komoditas bawang merah dan cabai. Kenaikan harga tersebut seiring meningkatnya intensitas hujan di sentra produksi saat masa panen," pungkas Erwin. (wdl/wdl)











































