Obligasi Valas RI Dapat Respons Luar Biasa dari Investor
Senin, 21 Mar 2005 12:57 WIB
Jakarta - Meneg BUMN Soegiharto mengungkapkan, dari hasil roadshow ke Singapura dan Hong Kong ternyata minat investor asing terhadap obligasi internasional Indonesia luar biasa besar. Namun demikian, pemerintah masih akan mempertimbangkan waktu, harga dan jumlah obligasi dalam valas yang rencananya akan diterbitkan Maret ini. "Hasil roadshow di Hong Kong dan Singapura kemarin, minatnya luar baisa. Sekarang kita sedang melakukannya di New York dan Eropa," kata Soegiharto usai pelantikan jajaran direktur baru Garuda di lantai 21 Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (21/3/2005).Pernyataan Soegiharto ini sedikit berbeda dengan pernyataan Menkeu Jusuf Anwar yang menyatakan Pemerintah tengah mempertimbangkan untuk menunda penerbitan obligasi internasional yang rencananya akan dilaksanakan pada Maret ini. Alasannya, investor dunia saat ini tengah mengalami perkembangan akibat tingginya harga minyak dunia. Selain itu menurut Jusuf Anwar, jatuhnya harga saham General Motor dan kemungkinan dinaikkannya suku bunga The Fed juga menambah dampak buruk pada rencana pemerintah menerbitkan obligasi internasional. "Kalau The Fed jadi naik, itu akan lebih jelek lagi. Berarti cost of borrowing kita akan lebih tinggi lagi. Itu salah satu yang kita waspadai dan kita monitor," tukasnya.Khusus mengenai anjloknya saham General Motor, Menkeu mengakui dampaknya cukup besar karena banyak investor yang rugi dan tidak mau lagi menanggung risiko atau berhenti untuk belanja. Menanggapi masalah jatuhnya saham General Motor ini, Soegiharto mengakui bahwa dampaknya adalah pasar fixed income menjadi tidak menentu. "Tapi itu hanya beberapa hari saja. Dihari-hari berikutnya sudah mengalami perbaikan," tukasnya. Namun Soegiharti mengaku dirinya belum bisa menentukan berapa tingkat yield atau imbal hasil tehadap obligasi internasional itu. "Karena kita masih melihat bagaimana kondisi pertengahan minggu depan, karena kemarin itu masih perkenalan saja. Jadi menunggu waktu yang kondusif," demikian Soegiharto.
(qom/)











































