Masih Pantau Pasar AS, Nasib Obligasi Valas RI Belum Jelas
Rabu, 23 Mar 2005 18:10 WIB
Jakarta - Meski hasil roadshow ke New York dan London menunjukkan minat investor terhadap obligasi internasional Indonesia tinggi, namun pemerintah Indonesia masih akan memantau perkembangan pasar internasional sehubungan kenaikan suku bunga Fed. "Saya mau lihat Indeks Harga Konsumen AS yang baru untuk memantau tingkat inflasi di AS," kata Menkeu Jusuf Anwar di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (23/3/2005).Jusuf Anwar mengungkapkan, hasil roadshow obligasi internasional yang berlangsung di New York dan London berhasil dengan baik, dimana minat investor atas obligasi global Indonesia masih tinggi. Dalam kesempatan berbeda, Jusuf Anwar mengatakan, pemerintah perlu melihat IHK AS untuk mengetahui dampaknya pada emisi obligasi internasional Indonesia. "Saya juga lagi suruh orang memonitor akibat kenaikan The Fed yang 25 basis poin, bagaimana dampaknya dan bagaimana sentimen pasarnya," kata Jusuf. Seperti diketahui, pasar obligasi di AS tengah jatuh akibat kenaikan suku bunga Fed sebesar 25 basis poin dan juga keprihatinan yang tinggi dari Federal Reserve atas besarnya tekanan inflasi.Pernyataan Fed bahwa tekanan inflasi ke depan masih cukup tinggi membuat benchmark Yield surat berharga AS melonjak hingga mencapai level tertingginya sejak 8 bulan terakhir. Yield atau imbal hasil surat berharga berjangka waktu 10 tahun naik menjadi 4,63 persen yang merupakan level tertingginya sejak Juli tahun lalu. Semakin tinggi yield, maka harga obligasi makin rendah. Hasil pantuan di pasar internasional itu menurut Jusuf, akan digunakan untuk memutuskan apakah penerbitan obligasi internasional itu perlu diteruskan atau tidak. "Jadi belum deal, kalau roadshow nanti hasilnya favourable, saya akan membuat suatu keputusan. Kalau tidak favourable keputusannya lain. Jadi saya harus koordinasi, dengan koordinator dan penasehat keuangan," demikian Menkeu Jusuf Anwar.
(qom/)











































