Genjot Perekonomian, Gubernur BI: Kita Tunggu Peran Swasta

Genjot Perekonomian, Gubernur BI: Kita Tunggu Peran Swasta

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 25 Jul 2016 19:42 WIB
Genjot Perekonomian, Gubernur BI: Kita Tunggu Peran Swasta
Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2016 diproyeksikan mencapai 5,09% oleh Bank Indonesia (BI). Ini hanya sedikit lebih baik dibandingkan realisasi pada kuartal sebelumnya, yang sebesar 4,92%.

Gubernur BI Agus Martowardojo, menyebutkan bahwa komponen pendorong ekonomi yang tidak sesuai dengan harapan adalah investasi swasta. Agus melihat swasta masih sangat kecil nilai investasinya.

"Kita melihat selama semester I ini peran dari pemerintah untuk keluarkan anggaran untuk konsumsi, investasi infrastruktur itu bagus sekali. Tapi peran swasta masih kita tunggu," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (25/7/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus optimis pada dua kuartal terakhir, investasi swasta akan terus meningkat. Khususnya, pemberlakuan pengampunan pajak atau tax amnesty memungkinkan banyak dana masuk ke dalam negeri, terutama untuk pemanfaatan di sektor rill.

Secara akumulasi 2016, Agus memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya, yakni sebesar 4,8%.

"Kita di tahun 2016 ini bisa naik dari 5,09% mungkin menjadi kisaran 5,3%. kalau betul-betul dampak dari tax amnesty dalam bentuk repatriasi dana dan tebusan itu seperti yang direncanakan," paparnya.

Pertumbuhan Kredit

Agus menuturkan pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2016 hanya mencapai 8,9%. Menurutnya, ini tertahan karena kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang meningkat.

"Kita melihat bahwa pertumbuhan kredit ini agak tertahan karena NPL yang sedikit meningkat, yang utama adalah karena permintaan kredit masih belum tinggi," jelas Agus.

Sampai dengan akhir tahun, pertumbuhan kredit bisa mencapai 10%. Lebih rendah dari proyeksi awal yaitu pada rentang 12-14%. Sedangkan pada 2017, kredit diproyeksi tumbuh 14-15%.

"Jadi pertumbuhan kredit tentu akan dipengaruhi oleh demand, demand itu dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia yang agak pelan dan berpengaruh ke Indonesia tapi NPL juga kondisi yang perlu disikapi," pungkasnya. (mkl/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads