Menurut Direktur Utama BRI, Asmawi Syam, bank pelat merah itu akan fokus memperkuat pendanaan melalui penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) murah dan penerbitan obligasi dengan suku bunga yang kompetitif.
"Itu disertai dengan upaya-upaya penguatan fee based income melalui pengembangan digital banking," ungkap Asmawi di Gedung BRI, Jakarta, Selasa (25/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asmawi mengatakan, untuk kredit mikro yang selama ini menjadi core business Bank BRI, masih menjadi pendorong utama dari pertumbuhan kredit tersebut.
Dibandingkan tahun lalu, kredit mikro yang disalurkan BRI tumbuh 20,3%, dari Rp 170 triliun menjadi Rp 204,8 triliun.
Sedangkan jika dijumlahkan dengan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), maka kredit yang disalurkan mencapai Rp 435,2 triliun atau tumbuh 14,8% secara tahunan.
"Dengan komposisi penyaluran kredit ke segmen tersebut sebesar 72,1% dari seluruh penyaluran kredit," ungkap Asmawi.
Asmawi mengatakan, di tahun 2016 ini bank berkode BBRI itu menargetkan NPL berada di level 2,1-2,4%, LDR di kisaran 87,0% dan CAR di posisi 20,0%.
"Kami optimistis dapat mencapai net profit atau laba perseroan di kisaran 1-2% pada tahun 2016 ini," tutur Asmawi.
Jumlah nasabah BRI hingga triwulan III-2016 meningkat sebanyak satu juta, dari periode yang sama tahun lalu 7,6 juta menjadi 8,6 juta nasabah. (ang/ang)











































