Ketidakpastian muncul sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS. Kalangan investor mengkhawatirkan kebijakan fiskal Trump yang mampu mendorong kenaikan suku bunga acuan AS lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Kita melihat keputusan ini karena masih ada ketidakpastian dari sisi global, khususnya dari AS," kata Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (15/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadinya kita proyeksikan 2 kali, tapi kita akan mencoba mempertimbangkan dan mengkaji apakah ada perubahan," ujarnya.
Meski mempertahankan suku bunga, Juda menilai posisi sekarang masih cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di samping juga menjaga stabilitas akibat risiko ketidakpastian dari sisi eksternal.
"Stance kebijakan BI ini tetap menyeimbangkan antara kebijakan makro ekonomi dan upaya mendorong pemulihan ekonomi. Jadi balancing antara keduanya. Antara stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara menambahkan, pihaknya akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan denganproses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.
Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Pemerintah untuk mengelola likuiditas,menjaga inflasi yang rendah dan stabil,memperkuat stimulus pertumbuhan, dan memastikan pelaksanaan reformasi struktural berjalan dengan baik, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Pada tahun 2017, perekonomian memasuki fase pemulihan ditandai dengan kondisi sektor korporasi yang membaik dan dukungan pembiayaan yang diperkirakan kembali meningkat, baik dari kredit perbankan maupun pembiayaan pasar modal," ujar Tirta pada kesempatan yang sama. (mkl/ang)











































