BI Ingin KUR Rp 110 T Menyasar Sektor Pertanian Hingga Kehutanan

BI Ingin KUR Rp 110 T Menyasar Sektor Pertanian Hingga Kehutanan

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 09 Feb 2017 16:05 WIB
BI Ingin KUR Rp 110 T Menyasar Sektor Pertanian Hingga Kehutanan
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2016 mencapai Rp 94,4 triliun dari target penyaluran Rp 100 triliun. Namun, mayoritas dana KUR itu mengalir ke sektor perdagangan.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, mengharapkan penyaluran KUR 2017 sebesar Rp 110 triliun mayoritas diberikan ke UMKM selain sektor perdagangan.

"Sepanjang 2016 KUR Rp 94,4 triliun cerminkan penyaluran kredit ke UMKM secara karakteristik sebagian besar tersalur ke perdagangan, ke depan jangan lagi," kata Agus di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Kamis (9/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus bisa mengembangkan UMKM lebih baik. Negara maju sudah berhasil kembangkan UMKM. Sekarang pemerintah berinisiatif salurkan KUR sampai Rp 110 triliun," lanjut Agus..

Menurut Agus, UMKM yang harus disasar ke depan adalah sektor industri pengolahan, pertanian, hingga kehutanan. Agus juga meminta dukungan DPR untuk merealisasikan penyaluran KUR 2017 lebih banyak ke sektor UMKM.

"Kalau kita tidak beri perhatian pada UMKM maka rencana untuk bangun secara inklusif dengan gap antara si kayaa dan miskin tidak akan tercapai," ungkapnya.

Oleh karena itu, sambung Agus, BI memberikan rekomendasi dalam mengoptimalkan penyaluran KUR di 2017. Pertama, distribusi KUR harus lebih merata yang tidak terkonsentrasi pada beberapa bank dan wilayah.

"Penyaluran KUR berarah ke usaha yang baru berdiri, seperti start up, kreatif atau super mikro," kata Agus.

Kedua, meminimalisir penyaluran KUR ke debitur yang sudah dapat kredit komersial dari pebankan. Rencana penurunan suku bunga KUR bisa dilakukan bertahap, lalu pada saat menyusun APBN jika debitur harus dipastikan dapat subsidi bunga.

"Kalau sudah pernah kasih subsidi bunga jadi turun dari 12 jadi 9%. Selama pinjaman harus dikasih subsidi terus kalau enggak nanti bunga balik ke 12% menyulitkan debitur," pungkas Agus. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads