Pakai Cara Ini, UKM di Kampung Lebih Mudah Dapat Modal Usaha

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Selasa, 07 Mar 2017 15:31 WIB
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Kendala utama pelaku usaha kecil dalam mengembangkan bisnis adalah akses permodalan dari perbankan. Melihat kondisi tersebut, salah satu perusahaan start-up yang bergerak dibidang pembiayaan atau Financial Technology (fintech) bernama Amartha mengambil kesempatan untuk menyediakan layanan berbasis peer to peer landing, atau menghubungkan antara pemilik modal (investor) dengan si peminjam (borrower).

Chief Eksekutif Officer sekaligus pendiri Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan Amartha menyasar para pelaku usaha kecil yang sulit untuk mendapatkan pinjaman modal dari perbankan karena tidak memenuhi syarat (unbanked). Terutama di wilayah pelosok atau terpencil.

"Segmen unbanked yang di kampung-kampung itu pasti harus berjuang kalau ingin dapat akses ke bank, karena bergerak di sektor informal, terus enggak punya fixed asset untuk pinjaman ke bank, cash flow-nya juga enggak stabil. Nah itu kalau mau dapat pinjaman ke bank aja harus susah payah, sedangkan tetap butuh modal," ungkap Taufan di kawasan Pasar Santa, Jakarta, Selasa (7/3/2017).

Taufan menjelaskan, Amarta berinisiatif untuk membuka dana dari publik dan kemudian menyalurkannya ke para pelaku usaha kecil tersebut. Taufan menjelaskan, pemberi pinjaman dapat mengakses website amartha.com dan menaruh dana minimal Rp 3 juta, dengan imbal hasil atau return beragam, sekitar 10% hingga 15%.

Sedangkan, peminjam sendiri juga perlu untuk mengakses website tersebut untuk bisa mendapatkan pinjaman. Nantinya agen-agen dari Amarta akan membantu para peminjam untuk mendaftarkan secara langsung. Para peminjam bisa mendapatkan bantuan dana mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 10 juta, dengan jangka waktu pinjaman yang beragam. Mulai dari tiga bulan hingga satu tahun, dengan membayar cicilan setiap minggu.

"Amartha menarik fee dari lender dan borrower. Range antara 5% hingga 10%. Sekarang kita membuat investasi ke sektor informal menjadi lebih dekat lagi. Karena banyak orang yang bicara bagaimana investasi berdampak sosial tapi tidak hanya charity doang, tapi bisa kasih return, ya ini wujudnya Amartha," terang Taufan. (hns/hns)