4 Kebijakan BI Dinilai Efektif Untuk Kuatkan Rupiah

4 Kebijakan BI Dinilai Efektif Untuk Kuatkan Rupiah

- detikFinance
Rabu, 27 Apr 2005 14:13 WIB
Jakarta - Empat kebijakan yang dikeluarkan BI untuk mengangkat nilai tukar Rupiah dinilai akan efektif, terutama untuk mempersempit ruang spekulasi. Demikian disampaikan Pengamat ekonomi Chatib Basri disela-sela seminar musim semi perekonomian Indonesia di Hotel Shangri La, Jakarta, Rabu (27/4/2005).Seperti diketahui, Gubernur BI Burhanuddin Abdulah kemarin mengumumkan 4 kebijakan yang akan diambil BI untuk menguatkan nilai tukar Rupiah. Keempat kebijakan itu adalah menurunkan net open position (NOP) dari 30 persen menjadi 20 persen, menaikkan suku bunga SBI 15-25 basis poin, menaikkan giro wajib minumum dan swap untuk pembelian valas selama 3-6 bulan. "Kebijakan itu akan membuat riil interest rate kita menjadi kompetitif dibandingkan negara lain. Yang terjadi sekarang nominal interest rate lebih rendah dari tingkat inflasi, sehingga real interest ratenya menjadi negatif," kata Chatib Basri.Dengan adanya kebijakan BI tersebut, menurut Chatib, akan membuat ruang spekulasi dolar menjadi terbatas. "Kebijakan memperkecil net open position, itu akan efektif karena ada kontrol kebijakan moneter. Saya kira salah satu yang BI agak terlambat adalah melakukan antisipasi dari tren suku bunga yang terus meningkat. The Fed kan suku bunganya terus naik," paparnya. Mengenai posisi Rupiah sendiri, Chatib optimis bisa kembali menguat ke level Rp 9.000 per dolar AS. Chatib mengakui, kondisi Rupiah pada tahun ini persis dengan kondisi pada tahun lalu, dimana pada Juni, Rupiah sempat menembus level Rp 9.600 per dolar AS, namun akhirnya bisa menguat ke level Ro 8.900 per dolar AS.Chatib menjelaskan, ada beberapa alasan yang membuat Rupiah bisa kembali ke Rp 8.800-8.900 per dolar AS. Pertama, mengenai lelang obligasi valas US$ 1 miliar. Kedua, dana bantuan untuk Aceh. "Kalau ditukarkan dengan Rupiah, dana itu akan membuat Rupiah menguat," ujarnya. Ketiga, adanya investasi dari luar yang masuk ke Indonesia misalnya investasi Suzuki di Indonesia. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads