Tak Ada Alasan Rupiah Melemah

Presiden SBY:

Tak Ada Alasan Rupiah Melemah

- detikFinance
Kamis, 28 Apr 2005 14:05 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhyono berharap tidak timbul kegaduhan psikologis akibat merosotnya nilai tukar Rupiah sehingga pasar tidak dapat terkelola dengan baik. SBY menilai, saat ini tidak ada alasan bagi masyarakat untuk takut nilai tukar Rupiah akan terus merosot karena kondisi makro dan fundamental ekonomi bangsa dalam kondisi baik."Tidak ada alasan apapun sekarang ini nilai tukar kita terguncang, terperosok dan jatuh secara tidak semestinya," kata SBY dalam sambutannya saat mencanangkan gerakan nasional kemitraan penyelamatan air di Istana Negara, Jakarta, Kamis (28/4/2005).Presiden SBY mengakui, saat ini tingkat inflasi memang terus meningkat. Namun menurut SBY, tidak ada goncangan terhadap kestabilan ekonomi dan politik secara nasional yang dapat memperburuk keadaan. Selain itu, kata SBY, saat ini Indonesia memiliki cadangan devisa sebesar US$ 36 miliar dan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,1 persen diharapkan dapat melonjak menjadi 5,5 persen pada akhir tahun ini. Selanjutnya SBY menjelaskan soal mekanisme di pasar uang yang sebenarnya sama saja dengan yang terjadi di pasar lainnya. SBY menjelaskan, jika pada satu saat pembelian dolar meningkat, sementara persediaannya tidak bertambah, otomatis harganya naik. Demikian pula sebaliknya ketika pembelian dolar berkurang, semetnara penawarannya tetap, maka harganya akan turun. "Mengapa tiba-tiba terjadi pembelian banyak dolar, karena memang ada lembaga pemerintah dan non pemerintah yang membtuhkan dolar dalam usaha mereka, seperti membayar impor dan kewajiban-kewajiban lainnya. Nah, biasanya kalau terjadi pembelian besar-besaran, ada yang mengintip. Itulah spekulan-spekulan. Nebeng, dapat untung sana sini. Akhirnya terjadi sedikit rush atau nervous pasar," papar SBY.SBY juga menengarai, melemahnya Rupiah akhir-akhir ini juga dipicu oleh kebijakan Federal Reserve menaikkan suku bunganya. Langkah itu mengakibatkan menguatnya dolar terhadap seluruh mata uang yang lain, termasuk Rupiah. "Jadi ada paduan faktor internal dengan eksternal. Jangan ada kepanikan-kepanikan, apalagi spekulasi yang tidak bertanggung jawab," demikian Presiden SBY. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads