PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyambut baik niatan dari BI itu. Sebab selama ini perbankan Indonesia harus membayar biaya layanan sistem pembayaran ke perusahaan-perusahaan asing tersebut. Angka tidaklah kecil, bahkan mencapai Rp 25 triliun per tahun.
"Kita pakai kartu kita milik bank nasional, belanja di pusat belanja di Indonesia, tapi uangnya lari ke Amerika Serikat dulu. Dan ada fee-nya macam-macam. Menurut data BI dari seluruh bank di Indonesia setiap tahun bayar Rp 25 triliun," kata Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (21/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari Bank Mandiri saja itu sekitar 10-15% dari total yang dibayarkan seluruh bank nasional," imbuhnya.
Selain itu, dengan adanya NPG sendiri, maka Indonesia memiliki data transaksi nasabah sendiri. Data tersebut dianggap penting untuk pengembangan bisnis perbankan.
"Jadi tanda kutip kalau bicara bisnis saja data itu bisa dipergunakan pakai data analisis. Itu data yang penting untuk pengembangan bisnis," pungkasnya. (dna/dna)











































