Secara keseluruhan total pendapatan industri asuransi jiwa di kuartal I-2017 sebesar Rp 56,96 triliun. Angka tersebut meningkat 16,4% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 48,94 triliun.
"Total pendapatan disumbang dari pendapatan premi. Total pendapatan premi merupakan kontributor terbanyak atas total pendapatan industri asuransi jiwa, yakni sebesar 75,8%," kata Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim di Rumah AAJI, Jakarta, Rabu (14/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hendrisman, meningkatnya pendapatan premi didorong naiknya saluran distribusi bancassurance sebesar 47,5% dan berkontribusi sebesar 40%. Selain itu saluran keagenan turut mengalami pertumbuhan sebesar 11,9% dengan kontribusi 39,2%, disusul saluran distribusi alternatif yang juga meningkat 18,6% dan berkontribusi 20,9%.
Sementara total klaim dan manfaat industri asuransi jiwa meningkat 11,6% dari Rp 21,55 triliun menjadi Rp 24,05 triliun. Total tertanggun juga tumbuh 7% dari 55,34 juta orang menjadi 59,21 juta orang.
"Berdasarkan pencapaian pertumbuhan ini terlihat bahwa industri asuransi jiwa terus tumbuh melalui komitmen para anggota dan peningkatan literasi yang terus digalakkan terhadap masyarakat Indonesia," tukasnya.
Premi Naik, Hasil Investasi Turun
AAJI mencatat selama kuartal I-2017 jumlah investasi industri asuransi jiwa nasional mengalami peningkatan sebesar 21,3% menjadi Rp 420,82 triliun.
Kenaikan jumlah investasi itu menjadi kontributor utama meningkatnya total aset industri asuransi jiwa sebesar Rp 475,75 triliun. Angka tersebut meningkat 19,8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 397,25 triliun.
Namun sayangnya, peningkatan investasi itu berbanding terbalik dengan hasil investasinya. Tercatat hasil investasi industri asuransi jiwa turun 9,3% dari Rp 13,01 triliun menjadi Rp 11,8 triliun.
"Hal ini karena di awal tahun industri asuransi jiwa banyak meningkatkan investasinya di pasar modal, baik saham maupun reksadana. Sehingga pasar modal yang lesu berdampak kepada hasil investasi," kata Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim di Rumah AAJI, Jakarta, Rabu (14/6/2017).
Selain itu menurut Hendrisman juga terjadi fenomena, ketika hasil investasi menurun, total pendapatan premi industri asuransi jiwa justru meningkat. Tercatat pada kuartal I 2017 total pendapatan premi naik 25,5% dari kuartal I-2016 sebesar Rp 34,4 triliun menjadi Rp 43,17 triliun.
"Pendapatan premi kita meningkat cukup tajam, ini satu fenomena yang agak lain dibanding beberapa tahun lalu. Kalau hasil investasi turun biasanya juga turun, tapi ini enggak," imbuhnya.
Menurutnya hal itu justru menunjukan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap produk-produk asuranis mulai meningkat. Sebab meski hasil investasi turun namun tidak mengganggu pendapatan premi.
Adapun secara keseluruhan total pendapatan industri asuransi jiwa di kuartal I-2017 sebesar Rp 56,96 triliun. Angka tersebut meningkat 16,4% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 48,94 triliun. (ang/ang)










































