BI Musnahkan Uang Tak Layak Edar Rp 23,5 Triliun

BI Musnahkan Uang Tak Layak Edar Rp 23,5 Triliun

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 14 Jun 2017 17:12 WIB
BI Musnahkan Uang Tak Layak Edar Rp 23,5 Triliun
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan uang tidak layak edar yang sudah dimusnahkan sebanyak Rp 23,57 triliun per Maret 2017.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI mengatakan pemusnahan uang tidak layak dilakukan dan digantikan dengan uang emisi yang baru.

"Jumlahnya memang besar, karena kita juga mencetak dalam jumlah besar. Selain itu BI juga tidak menerbitkan uang lama selain emisi 2016, jadi uang lama begitu masuk lusuh ya tidak dicetak lagi. Dikeluarkan uang baru," kata Suhaedi di Gedung BI, Jakarta, Rabu (14/6/2017)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan uang tidak layak edar dan lusuh harus segera ditukarkan. "Biasanya untuk pecahan besar perputarannya lebih lama begitu masuk ke BI akan dipilih lagi yang layak dan tidak, baru dikeluarkan lagi ke masyarakat," kata Suhaedi.

Suhaedi menjelaskan saat ini masih ada uang yang tidak kembali ke sistem perbankan. Ini karena perputaran uang tidak baik di daerah yang tidak memiliki akses perbankan.

"Jadi daerah itu tidak ada kantor cabang bank, masyarakatnya jadi tidak menabung, uang jadi hanya berputar di situ-situ saja," ujar Suhaedi.

Dia menjelaskan, saat ini BI sudah tidak mencetak uang emisi lama dan digantikan dengan emisi 2016. Jadi jika uang emisi lama habis, maka uang emisi baru akan menggantikan.

Dari data statistik sistem pembayaran, indikator pengedaran uang, per Maret 2017 uang yang masuk dari perbankan ke Bank Indonesia tercatat Rp 43,028 triliun, jumlah ini lebih rendah dibandingkan periode awal tahun 2017 sebanyak Rp 71,45 triliun.

Sementara untuk aliran uang keluar dari Bank Indonesia ke Perbankan per Maret 2017 tercatat Rp 52,56 triliun. Lebih rendah dibandingkan periode Januari 2017 Rp 23,24 triliun.

Kemudian untuk uang kartal yang diedarkan mencapai Rp 562,7 triliun lebih rendah dibandingkan Januari 2017 Rp 564,3 triliun. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads