Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 24 Jul 2017 12:15 WIB

First Travel Diduga Pakai Skema Ponzi, Apa Itu?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
FOKUS BERITA Vonis Bos First Travel
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan izin operasi First Travel pekan lalu. Ada dugaan, biro perjalanan ini menggunakan skema Ponzi.

Apa itu skema Ponzi?

Skema investasi ini pertama kali dicetuskan oleh Charlez Ponzi pada 1920. Saat itu, Ponzi mempraktikkan arbitrasi dari kupon balasan surat internasional yang tarifnya berbeda di setiap negara.

Keuntungan yang didapatkan Ponzi dari praktik ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan investor sebelumnya.

Skema ini adalah investasi palsu yang membayarkan keuntungan untuk investor dari uang sendiri atau dibayarkan oleh investor berikutnya. Bukan dari keuntungan yang diperoleh individu atau organisasi yang menjalankan operasi ini.

Modus ini, mengiming-imingi investor baru dengan menawarkan keuntungan yang lebih tinggi dibanding investasi lain dalam jangka pendek dengan keuntungan yang sangat tinggi. Nah, kelangsungan dari keuntungan yang tinggi itu membutuhkan pemasukan dari uang investor baru, ini untuk menjaga skema agar terus jalan.

Nah, Satuan tugas (satgas) Waspada Investasi OJK menemukan skema yang mirip dilakukan oleh PT First Travel Anugerah Karya Wisata alias First Travel.

Bedanya, kalau di investasi dijanjikan keuntungan tinggi, maka di First Travel dijanjikan umrah dengan harga murah. Kenapa bisa murah? Karena kekurangannya ditutup oleh jemaah lain yang masuk belakangan.

First Travel memiliki 3 produk perjalanan umrah, yaitu paket promo umrah, reguler dan VIP. OJK menghentikan kegiatan penghimpunan dana di paket promo umrah.

Sebab, paket promo biaya umrah yang dipatok First Travel harganya Rp 14,3 juta. Sementara di patokan Kementerian Agama, biaya umrah normalnya berkisar Rp 21-22 juta.

Menurut Tongam mengatakan, First Travel mengaku memberikan subsidi kepada jemaah. Namun akibat subsidi ini lama-lama pihak travel merekrut jemaah baru untuk membiayai dan memberangkatkan jemaah yang sudah bayar.

"Jadi ada semacam gali lubang tutup lubang," ujar Tongam saat dihubungi detikFinance, Senin (24/7/2017).

Ini artinya, First Travel mendapatkan dana untuk jemaah lama dari jemaah baru yang menjadi anggota di paket promo tersebut.

"Jadi untuk menutupi dana orang-orang yang sudah membayar lebih dulu," imbuh dia. (ang/ang)
FOKUS BERITA Vonis Bos First Travel
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed