Follow detikFinance
Rabu 15 Nov 2017, 07:32 WIB

Selamat Datang di Rezim Suku Bunga Rendah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selamat Datang di Rezim Suku Bunga Rendah Foto: Ari Saputra
Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan atau BI 7days repo rate dua kali berturut-turut tahun ini. Setelah pada Agustus 2017 turun 25 bps menjadi 4,5% dan September 25 bps menjadi 4,25%.

Penurunan suku bunga acuan ini pun diikuti dengan menyusutnya suku bunga simpanan berjangka atau deposito di perbankan, yang secara rata-rata memberikan 4%-5% untuk setiap tenor yang berbeda. Selain itu, penurunan bunga juga terjadi karena perbankan dinilai sedang mengalami kelonggaran atau kelebihan dana dari masyarakat.

Padahal, pada September 2014 suku bunga deposito di perbankan sempat menyentuh 11%. Saat itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator langsung bertindak dengan memberlakukan pembatasan terhadap bunga simpanan tersebut.

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti menjelaskan turunya bunga deposito ke level yang rendah adalah hal yang normal, sesuai dengan suku rendahnya bunga acuan.

Saat ini menurut dia, likuiditas di perbankan sedang longgar, alias bank sedang kebanjiran uang dari nasabah. "Bisa dilihat, bank likuiditasnya masih longgar, sesuai dengan loan to deposit ratio (LDR) yang sudah berada di bawah 90%," kata Destry, kemarin.

Dari data yang dihimpun detikFinance pada statistik perbankan Indonesia (SPI) per Agustus 2017 rasio LDR tercatat 89,17%. Terus menurun sejak 2015 lalu yang tercatat 92,11%.

Menurut Destry, hal ini terjadi karena pertumbuhan kredit di bank memang sedang lambat, namun tidak diimbangi dengan kecepatan penyaluran kredit. Sehingga bank berlebihan likuiditas. Karena berlebih, biaya atau beban bunga yang ditanggung bank akan lebih besar. "Secara likuiditas memang sedang bagus saat ini, jadi ketika bank menurunkan bunga deposito sudah searah dengan kebijakan BI," imbuh dia.


Bank yang telah menurunkan bunga deposito hingga level 4% adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA), bank dengan kode emitem BBCA ini memasang bunga deposito 4% saja untuk deposito kurang dari Rp 2 miliar dengan tenor 1 bulan, kemudian 4,25% untuk tenor 3, 6 dan 12 bulan.

Lalu untuk simpanan di atas Rp 2 miliar diberikan bunga 4,25% untuk lama simpanan 1 bulan dan untuk jangka waktu 3, 6 dan 12 bulan sebesar 4,5%.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja kepada detikFinance menjelaskan, penurunan bunga deposito sudah dilakukan sejak awal tahun. "November ini kami sudah turunkan 0,5% lagi, kami sudah turunkan sejak awal tahun. Karena likuiditas memang masih longgar," kata Jahja.

Mengutip laporan keuangan, pada kuartal III 2017 LDR atau loan to funding ratio (LFR) BCA tercatat 74,4% dibandingkan periode kuartal III tahun sebelumnya 77,3%. Untuk jumlah deposito tercatat Rp 146,4 triliun tumbuh 16,5% secara year on year (yoy). Rasio dana mahal di BCA hanya 25,5% sisanya 75,5% adalah dana murah.


Selain BCA PT Bank Mandiri Tbk juga memasang bunga deposito 4% untuk simpanan di bawah Rp 100 juta dengan tenor 1 bulan. Seperti dikutip dari data PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Selasa (14/11/2017) ada penurunan hampir untuk seluruh tenor.

Dana di bawah Rp 100 juta untuk tenor 1 bulan turun dari 4,25% menjadi 4%. Tenor 3 bulan turun 5,50% menjadi 5,25%, tenor 6 bulan 5,50% jadi 4,75% dan 12-24 bulan tetap di 4,75%. Dana Rp 100 juta - Rp 1 miliar, tenor 1 bulan tetap 4,25%, 3 bulan tetap 5,50%, 6 bulan turun dari 5,50% jadi 5% dan 12-24 bulan tetap 4,75%.

Rasio LDR Bank Mandiri tercatat 89,9% menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2016 90,2%.

Asisten Gubernur BI, Doddy Budi Waluyo menjelaskan secara umum likuiditas perekonomian memang bertambah di semester II tahun ini. Pertambahan terjadi seiring ekspansi belanja pemerintah yang besar.


"Likuiditas perekonomian yang bertambah tersebut, sebagian menjadi simpanan masyarakat di perbankan. Di mana jumlahnya terus meningkat seiring dengan ekspansi belanja pemerintah tersebut," kata Doddy dalam pesan singkat kepada detikFinance.

Dari data uang beredar Bank Indonesia (BI) per September 2017 dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp 4.992 triliun, tumbuh 11,1% dibandingkan periode bulan sebelumnya 9,4%.

Lalu untuk simpanan deposito atau tabungan berjangka tercatat Rp 2.290 triliun atau tumbuh 11,3%. Giro per September 2017 tercatat Rp 1.110 triliun tumbuh 12,1%. Kemudian untuk simpanan jenis tabungan, tercatat Rp 1.592 triliun atau tumbuh 10,1%.

Kemudian secara rata-rata industri bank untuk bunga deposito jangka waktu 1 bulan per September 2017 berada di level 6,09% dari bulan Agustus 2017 6,3%. Untuk jangka waktu 3 bulan bunga deposito tercatat 6,46% lebih rendah dibanding bulan sebelumnya 6,54%.

Bunga Deposito Rendah, Bunga Kredit Masih Tinggi

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, jika suku bunga dana turun maka seharusnya bisa diikuti dengan penurunan bunga kredit. Menurut dia, lambatnya penurunan bunga karena bank memiliki biaya operasi yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara regional.

"Biaya operasi perbankan di Indonesia itu dari total aset masih sekitar 3%-3,5%. Negara di Asean hanya 1%-2% artinya perbankan di Indonesia tidak efisien sekitar 100 bps sampai 150 bps," ujarnya.

Dia menambahkan, bank harus menurunkan biaya operasi. Bank harusnya bisa menekan biaya operasi dengan menggunakan teknologi. "Jadi jangan sampai cost of fund sudah turun, biaya operasi tidak bisa turun. Bank harus pakai teknologi untuk tekan biaya," imbuh dia.

Berdasarkan data uang beredar BI per September 2017, rata-rata suku bunga kredit perbankan nasional berada di kisaran 11,6% lebih rendah dibandingkan periode bulan Agustus 2017 11,68%.

(ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed