Di era milenial, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Sunarso ingin fokus membidik generasi milenial supaya bisa jadi nasabahnya. Sunarso bermimpi untuk membuat Pegadaian bisa dibuat berkonsep kafe ala 'Jaman Now'. "
Sekarang orang kan suka nongkrong di kafe, saya punya mimpi bisa tawarkan produk Pegadaian selain pembiayaan dan gadai di sana. Misalnya produk tabungan emas, jadi sambil ngopi bisa buka tabungan emas juga," kata Sunarso saat berbincang dengan detikFinance, di Kantor Pegadaian akhir pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah karena nabungnya sedikit-sedikit tidak terasa sudah punya 1,5 gram. Terus kalau mau langsung diambil ya bisa. Harganya juga naik," ujar Sunarso.
Dia menyebutkan, menyasar generasi milenial akan terus dikampanyekan. Menurut dia, orang yang datang ke Pegadaian itu bukan orang yang sedang kena masalah.
"Sekarang tagline itu memang menciptakan kesan orang ke Pegadaian sedang bermasalah. Datang diam diam terus ngomongnya pelan pelan. Padahal tidak seperti itu," ujar dia.
Menurut Sunarso, Pegadaian adalah lembaga jasa keuangan non bank yang memiliki sejumlah produk dan menyediakan solusi.
"Bisa saja kan orang ke Pegadaian mau berkonsultasi untuk pengambilan kredit, rasanya memang Pegadaian penampilannya harus diubah agar kekinian," imbuh dia.
Tahun ini Pegadaian menargetkan aset menjadi Rp 58,5 triliun, jumlah nasabah jadi 11,5 juta, omzet Rp 145,5 triliun, revenue Rp 12,6 triliun dan laba bersih Rp 2,7 triliun.
Aplikasi Gadai Online
Pegadaian kini fokus mengembangkan electronic channel untuk mengembangkan bisnis. Hal ini dilakukan untuk menghadapi era digital dengan financial technology dan perbankan.
Sunarso menjelaskan saat ini perseroan sedang mengembangkan aplikasi gadai online yang bertujuan untuk memudahkan masyarakat.
Dia menjelaskan, aplikasi ini akan membuat masyarakat yang ingin menggadaikan barang lebih mudah dan efisien. "Orang yang mau tanya ke Pegadaian tidak perlu datang ke kantor atau telepon, cukup dengan aplikasi," kata Sunarso.
Sunarso menceritakan, nantinya dengan aplikasi ini masyarakat yang ingin menggadaikan hanya tinggal memilih dan menekan tombol di aplikasi tersebut.
"Kalau mau gadai ya tinggal buka aplikasi, input jumlah dan masukkan alamat. Nanti pegawai kami meluncur bawa alat tes dan timbangan. Sudah diperiksa ditentukan harga tinggal transfer dananya, mudah sekali ini, transaksi 'jaman now'," imbuh dia.
Selain aplikasi gadai online, Pegadaian juga terus memperluas jaringan dengan meningkatkan konsep keagenan. Sekedar informasi, saat ini jumlah kantor cabang Pegadaian di seluruh Indonesia telah mencapai 4.319 outlet.
Baca juga: Kiprah Pegadaian di Tengah Serbuan Fintech |
Sunarso menyebutkan, agen bertujuan sepagai kepanjangan tangan dari Pegadaian. Untuk menjangkau wilayah yang belum tercover. Menurut dia, keagenan juga akan disesuaikan dengan produk yang akan dipasarkan.
Misalnya, untuk produk gadai emas, maka Pegadaian akan membuka agen di toko emas. "Terus mau perluas gadai elektronik seperti handphone ya kita buka di toko elektronik dan counter handphone, kita akan perluas ke sana," ujarnya.
Kemudian, setelah perluasan jaringa, Pegadaian juga terus meningkatkan variasi produk, jadi tidak hanya gadai yang akan diandalkan. Misalnya penambahan produk berjenis kredit, menurut Sunarso ini sangat diperlukan. Karena saat ini saingan Pegadaian tidak hanya perusahaan gadai saja, tapi juga perusahaan keuangan non bank.
"Karena itu Pegadaian harus mampu mengembangan produk dengan infrastruktur yang cukup, kompetensi perusahaan dan bagaimana people dalam hal ini karyawan, hingga risk management kami siapkan," ujarnya.
Dia menambahkan, jika strategi tersebut sudah dilakukan, Pegadaian akan datang ke masyarakat dengan produk yang lebih variatif, mulai dari gadai dan non gadai.
"Karena itu kami saat ini sedang menyusun cetak biru Pegadaian. Tujuannya untuk bertransformasi ke arah digital, yang memang harus didukung dengan mental dan kultural perusahaan," imbuh dia. (ang/ang)











































