Digosipkan Mau Dicaplok BCA, Ini Jawaban Bank Harda

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 31 Jan 2018 16:53 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) tengah membuka diri terhadap masuknya pemegang saham baru. Namun perseroan masih merahasiakan siapa investor potensial yang akan masuk.

CEO Bank Harda Internasional Barlian Harlim menjelaskan, pihaknya memang berencana menerbitkan saham baru melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias right issue. Pihaknya juga membuka diri jika ada yang berniat menjadi pembeli siaga.

"Kita terbuka untuk investor lain. Kami terima standby buyer dari luar," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Namun sayangnya Barlian mengaku masih belum mengetahui siapa yang akan masuk menjadi investor strategis nantinya melalui aksi korporasi tersebut baik PT Bank Central Asia Tbk (BCA) ataupun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) seperti gosip yang beredar. Meski dia mengakui sudah ada pihak yang tertarik.

"Kalau BCA saya sudah konfirmasi ke pemegang waktu itu tidak. BRI juga tidak. Tapi memang sudah ada beberapa mitra strategis," tuturnya.

Melalui rights issue, BBHI sendiri berharap bisa memperoleh dana sekitar Rp 100 miliar. Adapun jumlah saham yang akan dilepas sekitar 10-20% dari saham yang disetor.

"Ya untuk harganya belum, nanti setelah kita dapatkan persetujuan dari OJK. Kita kirim sekitar pertengahan Februari 2018. Kita akan lakukannya Maret 2018," tandasnya.

Laba Tumbuh 46%

Bank Harda sepanjang 2017 berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 10,36 miliar (belum diaudit). Angka tersebut meningkat 46,2% dari laba bersih 2016 sebesar Rp 7 miliar.

Barlian mengatakan, peningkatan laba bersih tersebut sejakan dengan peningkatan kredit sebesar 24,4% atau Rp 341 miliar dari 2016 menjadi Rp 1,74 triliun.

"Kredit tumbuh 24,4% ini pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah BHI. Sebenarnya awalnya kami menargetkan kredit tumbuh 10%," tuturnya.

Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,1% dari 2016 menjadi Rp 1,74 triliun. Pertumbuhan DPK tersebut juga disebut pencapaian tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Sementara rasio kredit bermasalah perseroan (non performin loan/NPL) untuk gross sebesar 3,18%, sementara NPL nett di level 2,39%.

"NIM (Net Interest Margin) kita juga pertahankan di atas 5%. Itu selisih di antara bunga deposito dan bunga pinjaman kami," pungkasnya. (ang/ang)