Follow detikFinance
Rabu 14 Feb 2018, 15:43 WIB

UN Swissindo Mengaku Masih Berjuang Lunasi Utang Umat Manusia

Sudirman Wamad - detikFinance
UN Swissindo Mengaku Masih Berjuang Lunasi Utang Umat Manusia Markas UN Swissindo di Cirebon. Foto: Sudirman Wamad
Jakarta - United Nations Swissindo Trust Internasional Orbit (UN Swissindo) mengaku sebagai salah satu lembaga yang mampu menghapuskan utang umat manusia di dunia.

Lembaga abal-abal ini sudah dilarang beroperasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Faktanya, lembaga dengan pengikut dari seluruh dunia ini masih beroperasi.

detikFinance pun penasaran dengan markas besar yang dijadikan pusat kegiatan UN Swissindo. tepatnya di Perumahan Griya Caraka, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Soegiharto Notonegoro yang akrab disapa Sino menjadi pemimpinnya. Bahkan, diklaim oleh pengikutnya sebagai Presiden Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ketika tiba di lokasi, kondisi markas UN Swissindo sepi, tak ada orang satu pun. Tim Publikasi UN Swissindo Rahardjo tak menampik UN Swissindo masih menjalankan kegiatannya, masih konsisten untuk menyejahterakan rakyat dengan pembebasan utang.

UN Swissindo merasa menjadi korban politik, karena telah dihentikan oleh OJK dan Satgas Waspada Investigasi.

"Beliau (Sino) menghadiri panggilan OJK dengan harapan ingin meluruskan masalah. Beliau menjelaskan secara gamblang dan rinci, harapannya ada win-win solution. Kita hormati lembaga negara, tapi forum di sana ada kesan memojokkan dan menyudutkan. Intinya begitu," kata Rahardjo saat dihubungi detikFinance, Selasa (13/1/2018) malam.

Rahardjo menjelaskan tentang alasan UN Swissindo untuk terus memperjuangkan hak rakyat. Bahkan, ia menilai OJK tak punya kewenangan untuk menghentikan. Sebab, UN Swissindo mengklaim bukan sebagai lembaga biasanya, melainkan pendiri negara di dunia.

"Swissindo itu lembaga pendiri negara. Saat ini sebetulnya dengan adanya Pancasila dan UUD 45 dari tahun 1945 apakah sudah dijalankan? Pasal 33 tentang kesejahteraan rakyat dan sila kelima sudah dipenuhi? Nah, Swissindo ingin mewujudkan itu," kata Rahardjo.


Lebih rinci, Rahardjo menjelaskan untuk bisa menyejahterakan rakyat adalah hal yang mudah bagi Swissindo. Sebagai pendiri negara, Swissindo memiliki hak untuk mendapatkan warisan dari berbagai pendiri, salah satunya Soekarno.

Aset atau warisan itu, sambunga Rahardjo, bisa dicairkan dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS) maupun rupiah hanya dengan voucher M1 ke bank. Voucher yang ditandatangani oleh Sino, pria kelahiran Cilacap yang mengklaim sebagai Presiden PBB.

"Syarat pertamanya hanya dengan voucher M1. Syaratnya cukup isi seusia E-KTP, tak memandang suku, ras, agama. Yang tak beragama juga berhak mendapatkannya," ucapnya.

Gaya bicara Rahardjo tetap kalem. Sembari menjelaskan tentang konsep gerakan pelunasan utang bagi umat manusia. Pelunasan utang, menurutnya, mampu menyelesaikan masalah tentang kesejahteraan rakyat yang selama ini masih rumit untuk diselesaikan oleh pemerintah.

"Cukup dengan itu (pelunasan utang) saja. Bukan hanya Indonesia yang kita urusin, dunia juga kita urusin," katanya.


Pemimpin UN Swissindo Sino, menurut Dadang memegang tongkat kepemimpinan pendiri negara. Bahkan, diklaim sebagai penerus Soekarno. Menurut Rahardjo, UN Swissindo meneruskan perjuangan Soekarno yang telah menghantarkan rakyat ke gerbang kesejahteraan.

Jika era Soekarno hanya menghantarkan sampai gerbang, Rahardjo menegaskan, UN Swissindo mengajak masuk rakyat dunia untuk ke dalam kesejahteraan.

"Sebernya bukan Soekarno saja, para wali juga. Tapi, yang mudah kita deteksi kan Soekarno. Masa Soekarno kan belum teraelisasi, maka kita teruskan," tegasnya.

Ia juga tak menampik estafet Presiden PBB versi UN Swissindo itu bisa diteruskan oleh orang lain. Namun waktu dan nama calon pemimpin masih menjadi kehendak tuhan.

"Itu kehendek Ilahi. Kalau tahu (calon pemimpinnya) sapa, nanti akan bunuh-bunuh memperebutkan itu. Pasti ada regenerasi, tapi dirahasiakan. Karena kalau pemerintah tahu nanti akan ada penggulingan atau kudeta," ucapnya.

Saat ditanya dampak setelah adanya pernyataan dari OJK dan Satgas Waspada Investasi terhadap para pengikutnya, Rahardjo tak menampik hal tersebut berpengaruh. Beberapa pengikutnya yang merasa khawatir tentang kebenaran UN Swissindo.


"Khawatir wajar saja. Ini sebuah perjuangan. Yang merasa takut ada, atau yang berpikir bahwa ah Swissindo ini bohong, ada," katanya.

Rahardjo mengaku akan tetap setia untuk terus memperjuangkan demi meyakinkan kebenaran yang telah ia yakini tentang UN Swissindo.

"Ini proses pendewasaan untuk meyakinkan kebenaran. Mencapai cita-cita pendiri negara untuk masuk ke pintu gerbang (kesejahteraan). Pembebasan utang butuh usaha, bukan soal voucher M1. Kita tifak takut, meski ada intimidasi politik," tutupnya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed