Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 03 Mar 2018 19:30 WIB

Orang RI Ikut 'Nambang' Bitcoin, Apa Dampaknya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Bitcoin sebagai salah satu cryptocurrency memiliki pergerakan nilai yang cepat. Meskipun berfluktuasi bitcoin masih menjadi virtual currency yang paling dicari oleh orang-orang. Ada dua cara mendapatkan bitcoin yakni membeli via marketplace dan menambang atau mining.

Nah di Indonesia, saat ini sedang booming menambang bitcoin. Hal ini diungkapkan oleh penjual komputer di Glodok. Mereka menyebutkan banyak orang yang melakukan pre order seperangkat komputer untuk menambang mata uang yang dibuat oleh Satoshi Nakamoto ini.

Menanggapi hal tersebut, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan menjelaskan banyaknya orang Indonesia yang mulai menambang bitcoin, maka turut mendorong perkembangan industri komputer di Indonesia.


"Karena dengan mining kan orang beli Video Graphic accelerator (VGA), peralatan komputer dan perlengkapan lain. Saya kita ini sangat positif," kata Oscar, Sabtu (3/3/2018).

Oscar mengungkapkan, maraknya mining bitcoin diharapkan bisa mendorong transaksi di marketplace yang menjual virtual currency ini. Hal ini karena supply bitcoin bisa lebih baik dan cepat.

Tapi, menurut Oscar, menambang atau mining bukanlah pilihan tepat jika ingin mendapatkan nilai ekonomis dari bitcoin.

"Kalau mining kan lebih lama, ya lebih cepat sih beli di marketplace. Lebih mudah juga," ujar dia.


Saat ini bitcoin tetap diminati sejumlah golongan yang memburu keuntungan. Pasalnya harga bitcoin sempat melambung tinggi hingga menyentuh US$ 18.900 per keping, padahal pada 2011 lalu nilai bitcoin hanya sekitar Rp 100 ribuan.

Dia menjelaskan, bitcoin bisa disamakan dengan komoditas dan bukan sebagai alat pembayaran.

"Kami tetap dukung regulasi BI untuk transaksi pembayaran di Indonesia, sama kan kalau di Indonesia kita membayar pakai dolar AS, Euro atau Yen ilegal namanya, karena yang legal hanya rupiah," kata Oscar.


Oscar mengungkapkan, untuk digital aset ini, Jepang adalah salah satu negara yang otoritas keuangannya telah mengatur bursa perdagangan cryptocurrency ini. Hal ini bertujuan untuk memonitor tindakan pencucian uang dan pendanaan terorisme.

"Jadi memang ini hanya digital aset dan komoditas, saya tidak pernah minta ini disahkan jadi mata uang. Karena transaksi di Indonesia memang harus menggunakan rupiah," tutur Oscar. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed