Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 08 Mar 2018 21:00 WIB

Mahasiswa RI di Timteng Kaji 3 Negara untuk Ekonomi Syariah

Nograhany WK - detikFinance
Foto: Simposium PPI Timur Tengah dan Afrika 2018 di Islamabad, Pakistan (Dokumentasi PPI Dunia) Foto: Simposium PPI Timur Tengah dan Afrika 2018 di Islamabad, Pakistan (Dokumentasi PPI Dunia)
Jakarta - Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Timur Tengah dan Afrika (Timtengka) mengkaji 3 negara untuk ekonomi syariah. Best practice dari 3 negara itu diharapkan bisa diterapkan di Indonesia.

"Negara-negara yang dianggap maju yaitu Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki. Alasannya yaitu kemajuan dalam sektor perbankan dan keuangan Islam dan industri halal," jelas Ketua Majelis Permusyawaratan Anggota) PPMI Pakistan (bagian dari PPI Timtengka-red) Qowiyyul Amin saat berbincang dengan detikcom, Rabu (7/3/2018) malam seperti ditulis Kamis (8/3/2018).



Qowi, demikian dia disapa menambahkan beberapa hal yang disorot dari 3 negara itu yaitu perkembangan bank Islam di Indonesia yang masih kalah jauh dengan konvensional, berbeda dengan di 3 negara tersebut, dari sisi aset, dan kepercayaan customer.

"Terkait industri halal yaitu kami berharap UU JPH (Jaminan Produk Halal) bisa segera diterapkan dalam lingkup yang luas dan eksekutor segera melengkapi perangkat terkait seperti PP (Peraturan Pemerintah), dan BPJPH (Badan Penyelenggara Produk Halal) sehingga bisa mendorong masyarakat untuk mendaftarkan produknya," imbuhnya.



Qowi merupakan salah satu peserta diskusi "3 in 1" yang melakukan kajian terhadap 3 negara untuk rekomendasi penerapan ekonomi syariah di Indonesia dalam Simposium Kawasan PPI TimTengka yang digelar di Allama Iqbal University, Islamabad, Pakistan pada 1-4 Maret 2018 lalu. 37 peserta yang merupakan perwakilan pelajar Indonesia dari berbagai negara seperti Sudan, Madinah, Lebanon, Yordania, Perancis, dan lainnya hadir dalam Simposium ini.

Hasil dari kajian itu, imbuh Qowi memang masih butuh kajian lebih lanjut.

Ditambahkan Koordinator PPI Timtengka terpilih untuk periode 2018-2019, Muhammad Ruhiyat Haririe mengatakan bahwa PPI Timtengka melihat selama ini penerapan dan pengelolaan ekonomi syariah di Indonesia belum berjalan dengan baik, efektif dan maksimal.

"Ini yang menyebabkan banyak lembaga keuangan syariah yang sulit berkembang, bahkan terancam bangkrut. Sehingga ini membutuhkan kajian lebih lanjut mengenai langkah tepat untuk menerapkan sistem tersebut," ujar Haririe yang merupakan perwakilan dari PPI Sudan tersebut dalam rilis PPI Dunia yang diterima.


Mahasiswa RI di Timteng Kaji 3 Negara untuk Ekonomi Syariah Foto: Simposium PPI Timur Tengah dan Afrika 2018 di Islamabad, Pakistan (Dokumentasi PPI Dunia)


Dalam Simposium itu, peserta simposium juga membuat poin rekomendasi tentang ekonomi syariah untuk pemerintah, di antaranya:

1. Perlu ada peraturan perundang-undangan yang mengatur lebih mendalam terkait penerapan ekonomi syariah di Indonesia pada bank-bank syariah.
2. Perlu pengkajian dan pengesahan terhadap RUU yang mengatur mengenai pengelolaan CSR
3. Memberikan kesempatan yang besar kepada para ahli ekonomi syariah dari timur tengah untuk bersama terlibat aktif dalam kajian maupun penerapan sistem ekonomi syariah



Haririe juga memaparkan action plan dari Simposium tersebut yakni:

1. Program pemanfaatan CSR untuk peningkatan kualitas ekonomi guru di pelosok Indonesia.
2. Pembuatan Warkonis (warung ekonomi syariah) dengan program kajian ekonomi syariah. Serta program pengembangan pengetahuan dan kemampuan ekonomi syariah.
3. Kajian RUU mengenai pengelolaan CSR.
4. Pembuatan startup bisnis berbasis website titipinaja.com sebagai bentuk peningkatan ekonomi PPI di kawasan.
5. Pembuatan website konsultasi pendidikan di luar negeri.
6. Kajian lembaga syariah.

Dalam Simposium yang digelar selama 4 hari itu, para mahasiswa memperkaya insight tentang ekonomi syariah dengan berbagai narasumber baik dari dalam dan luar negeri seperti Ketua Forum Zakat Nasional Bambang Suherman, Founder Ojek Syar'i (Ojesy) Evilita Andrianipakar ekonomi syariah Indonesia, Dr M Syafi'i Antonio sebagai keynote speaker, Assistant International Institute of Islamic Economic (IIIE) Dr. Atiq-uz Zafar, dan Vice President International Islamic University of Islamabad (IIUI) Prof. Dr. Muhammad Munir.

Simposium Kawasan Timtengka menjadi pembuka dalam rangkaian simposium PPI Dunia yang juga akan diadakan di Jerman untuk PPI Amerika - Eropa, Thailand untuk PPI Asia Oceania, dan puncak pelaksanaan Simposium Internasional akan dihelat di Moscow pada akhir Juli mendatang.

PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika sendiri merupakan bagian dari PPI Dunia yang menaungi seluruh pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Saat ini PPI Dunia menghimpun 53 PPI Negara yang terbagi di tiga kawasan yaitu, Asia - Oceania, Amerika - Eropa dan Timur Tengah - Afrika. (nwk/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed