Follow detikFinance
Selasa, 10 Apr 2018 18:53 WIB

Ramai Kartu Kredit Digital Bisa Jadi Pesaing Bank?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi Foto: Rachman Haryanto Ilustrasi Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Kartu kredit digital kini mulai ramai digunakan sebagai alat pembayaran non tunai. Kartu kredit tersebut tidak dikeluarkan oleh bank, tapi oleh perusahaan financial technology (fintech).

Apakah ini akan menjadi pesaing bank?

Kepala Divisi Kartu Kredit PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BNI) Okki Rushartomo menjelaskan 'kartu kredit digital' oleh fintech ini dinilai lebih mirip dengan produk personal loan atau kredit tanpa agunan (KTA) dibandingkan bisnis kartu kredit biasa.

"Namun saat ini mereka langsung masuk ke merchant, sehingga menjadi saingan langsung produk kartu kredit di bank. Bahkan terakhir diamati, mereka masuk ke e-commerce dan cukup agresif," kata Okki saat dihubungi detikFinance, Selasa (10/4/2018).


Dia menjelaskan, kredit digital tersebut menyasar segmen yang belum dan kesulitan untuk memiliki kartu kredit, sehingga ini bisa menjadi alternatif kredit yang bisa didapatkan masyarakat.

Okki menilai, saat ini 'kartu kredit digital' belum terlalu berdampak ke produk kartu kredit yang diterbitkan bank. Namun, bank terus memperhatikan perkembangan produk tersebut.

"Kalau dilihat, untuk nasabah dari sisi harga, bunga yang ditawarkan memang cukup tinggi, sedangkan kartu kredit dari bank di sejumlah merchant banyak yang menawarkan cicilan dengan bunga 0%," jelas dia.

Dia menambahkan, untuk tetap eksis di bisnis kartu kredit, BNI tetap memberikan promo untuk menarik customer seperti promo untuk perjalanan wisata dan makan. Okki menjelaskan BNI juga fokus ke transaksi e-commerce sebagai salah satu kategori dengan pertumbuhan tertinggi.


Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Santoso menjelaskan untuk kredit online ini sebenarnya adalah skema kredit tanpa agunan yang dimiliki perusahaan fintech.

"Saya pikir target pasar di bisnis kartu kredit ini sangat luas, jadi masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing," ujarnya.

Santoso mengaku, BCA sama sekali tidak merasa terganggu dan tersaingi dengan kehadiran 'kartu kredit digital' ini dan BCA siap berkolaborasi.

Tahun ini BCA memproyeksikan pertumbuhan kartu kredit di kisaran 8-10% untuk nasabah dan penjualan 10-15%.

"Untuk mencapai target, kami akan menyediakan produk dan value yang tepat untuk customer. Prinsipnya kami harus mengetahui kebutuhan customer dulu," Ujar Santoso.

General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta menjelaskan kartu kredit baik digital maupun fisik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagai metode pembayaran non tunai.

"Masyarakat pada dasarnya membutuhkan cara pembayaran yang banyak diterima di semua tempat. Ada kelebihan masing-masing, kalau kartu kredit fisik kan sudah diterima hampir di merchant online dan offline. Kalau yang digital mungkin masih terbatas tapi bisa didapatkan lebih mudah," ujarnya. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed