Follow detikFinance
Rabu, 11 Apr 2018 16:00 WIB

Mau Kembangkan Bisnis, Bank Muamalat Butuh Tambahan Modal

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Danang Sugianto-detikFinance Foto: Danang Sugianto-detikFinance
Jakarta - Masalah permodalan yang dihadapi oleh PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bisa menjadi momentum pemerintah untuk menjadi pemegang saham. Direktur Utama Bank Muamalat Ahmad K Permana menilai potensi bank syariah tersebut ke depan akan tumbuh besar.

Bank Muamalat setidaknya membutuhkan dana segar sekitar Rp 4,5 triliun yang akan digunakan untukpenguatan dan pengembangan bisnis.

"Mudah-mudahan ini momentum dimiliki oleh pemerintah Indonesia, karena potensinya besar, akan sayang kalau nanti ini kesempatan ini dengan harga relatif murah," kata Permana saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (11/4/2018).


Permana menyebut pemegang saham terbesar Bank Muamalat saat ini adalah IDB dengan porsi 32,74%. Sayangnya selama empat tahun belakangan ini para pemegang saham tidak bisa menambahkan modalnya karena terbentur oleh aturan internalnya masing-masing.

"IDB ini termasuk yang paling besar di Muamalat, biasanya hanya 10-20%, kalau nambah lagi yang komplain bisa datang dari Iran dan Turki, tapi komitmen mereka tetap tinggi di Muamalat," ungkap dia.


Saat ini Bank Muamalat masih mencari investor yang benar-benar ingin menyuntikkan dananya. Sejauh ini, sudah banyak investor yang berminat kepada bank syariah pertama di Indonesia.

Calon investor juga datang dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, hingga Timur Tengah, dan juga lokal, khusus yang dari dalam negeri, Permana berharap pemerintah bisa menjadi investor.

"Karena IDB tidak terlalu punya bargaining, kalau dimiliki pemerintah ini ada momentum yang hanya ada sekali, dengan harga yang relatif murah, itu kalau saya boleh memilih," tutup dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed