Laporan dari Washington DC

Peringatan IMF: 3 Hal Ini Bisa Ganggu Ekonomi Negara Berkembang

Dana Aditiasari - detikFinance
Kamis, 19 Apr 2018 11:35 WIB
Financial Counsellor and Director for the Monetary and Capital Markets Department IMF/Foto: Dana Aditiasari/detikFinance
Washington - Pertumbuhan ekonomi dunia dipandang tengah dalam tren pemulihan bahkan peningkatan ke arah yang positif. Namun, International Menetary Fund (IMF) memperingatkan, tetap ada risiko yang bisa menghambat atau bahkan membuat satu negara gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.

Demikian disampaikan Financial Counsellor and Director for the Monetary and Capital Markets Department IMF, Tobias Adrian dalam paparannya di gedung IMF, Washington DC, Rabu (18/4/2018).

Paparan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Spring Meetings IMF-World Bank yang merupakan pertemuan terakhir jelang pertemuan puncak tahunan atau Annual Meeting, IMF-World Bank di Bali, Oktober mendatang.


"Dalam analisa kami, merujuk kondisi keuangan terkait distribusi pertumbuhan global di masa depan, mengindikasikan, pertumbuhan ekonomi global bisa menjadi negatif dalam 3 tahun ke depan," kata dia dalam kesempatan tersebut.

Setidaknya, ada 3 faktor pemicu yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi dunia berbalik menuju ke arah yang negatif. Pertama, adalah penyebaran risiko surat utang.

Adrian mengatakan, beberapa dinamika siklus kredit mulai muncul. Salah satunya adalah penyebaran surat utang korporasi berada pada level yang rendah. Penerbitan surat utang berisiko mengalami lonjakan dan menyentuh level tertinggi di tahun 2017.



"Kondisi ini dipandang bisa memicu pengetatan kondisi ekonomi dan menyebabkan jatuhnya nilai aset secara tajam," kata dia dalam kesempatan tersebut.

Masalah kedua, adalah negara berpendapatan rendah yang bakal menghadapi pengetatan kondisi keuangan global. Ketahanan utang negara berpendapatan rendah semakin memburuk dan memangkas arus modal negara tersebut.

Ketiga, adalah ketidaksesuaian struktur pemanfaatan dolar pada perbankan di negara yang tak menggunakan dolar meskipun perbankan tersebut telah melakukan berbagai perbaikan sejak krisis keuangan global.

Masalah utamanya adalah, penarikan utang dalam bentuk dolar namun sumber pendapatan negara tersebut bukan dolar. "Ini bisa menyebabkan permasalahan pendanaan dolar ketika terjadi ketegangan di pasar," sebut dia.

Kesimpulannya, kata dia, dunia tengah dalam kondisi perbaikan ekonomi. Namun, investor dan pembuat kebijakan tak boleh terlena dalam kondisi tersebut.

"Mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko yang terkait dengan peningkatan suku bunga, mendongkrak aktivitas pasar dan meningkatkan tensi perdagangan," tandas dia. (dna/zlf)