RI Berusaha Selesaikan Komitmen Debt Swap
Jumat, 08 Jul 2005 16:00 WIB
Jakarta - Pemerintah berusaha menyelesaikan komitmen pertukaran utang atau debt swap dengan sejumlah negara sesuai kesepakatan Paris Club. Hal ini penting agar Indonesia di masa mendatang memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan keringanan utang lewat debt swap.Hal tersebut disampaikan Deputi Menko Perekonomian bidang kerjasama internasional Mahendra Siregar dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Komunikasi Wartawan Keuangan, Ekonomi dan Moneter (Forkem) di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (8/7/2005)."Kalau kita tidak bisa menyelesaikan hal-hal yang sudah dibahas secara jauh dan mendalam dengan berbagai pihak dan tidak bisa merealisasikan, itu bisa menimbulkan banyak pertanyaan," kata Mahendra.Mahendra menjelaskan, upaya mengurangi beban utang lewat debt swap adalah amanat Tap MPR. Oleh karenanya, semua pihak diharapkan tidak terjebak pada hal-hal teknis dan yang harus dilihat adalah aspek urgensi dan prioritasnya. Mahendra menambahkan, masalah debt swap dengan Inggris yang belum jelas, sangat disayangkan. Pasalnya, jika alasan yang muncul tidak jelas, maka bisa mempengaruhi realisasi debt swap dengan negara lain. "Untuk bisa meningkatkan jumlah realisasi debt swap, prosesnya kan learning by doing. Jadi harus diselesaikan satu per satu dengan masing-masing negara," tegas Mahendra. Menurut Mahendra, saat ini baru empat negara yang memberikan komitmen untuk siap membicarakan debt swap yakni Jerman, Inggris, Italia dan Perancis. Untuk Jerman, saat ini program debt swap 1 dan 2 sudah berjalan dan sedang dipersiapkan debt swap ketiga dalam bentuk debt to nature swap yakni di bidang lingkungan hidup dan kelautan. Sementara program debt swap dengan Italia juga sudah disepakati senilai US$ 31 juta. Khusus untuk tahun 2005, Italia meminta debt swap dengan proyek-pryek rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh dan Nias. Untuk tahun-tahun ke depan bisa dialihkan untuk debt swap dalam bentuk pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran dan pembangunan pedesaan. Dengan Prancis masih terus disempurnakan karena pihak Prancis meminta debt swap dalam betuk debt to eqity swap yang dikaitkan dengan investasi asing di Indonesia. "Mekanismenya masih dibicarakan," kata Mahendra. Untuk Jerman dan Italia, debt swap ditujukan untuk mengurangi utang lunak. Untuk Inggis dan Prancis penghapusan utang diharapkan dalam bentuk kredit ekspor.
(qom/)











































