Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 27 Apr 2018 17:07 WIB

Kebijakan Rachmat Saleh: Stop Izin Baru Bank Asing

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul/detikFinance Foto: Selfie Miftahul/detikFinance
Jakarta - Sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) Rachmat Saleh tergolong orang yang tegas. Pasalnya, ketika menjabat ia pernah menyetop izin bank-bank asing baru.

Penyetopan tersebut dilakukan agar bank-bank nasional yang dianggap masih dalam perkembangan tidak kalah bersaing.

"Persaingan itu baik untuk kemajuan agar orang lain tidak tertidur keenakan tanpa saingan. Tetapi kalau bank swasta nasional yang belum begitu kuat digempur oleh bank-bank asing, mereka niscaya mati. Jadi kalau bank-bank swasta kita belum cukup kuat, kita tidak menerbitkan izin baru untuk bank asing," kata Lee Hiang menirukan Rachmat Saleh dalam buku Legacy Sang Legenda Kejujuran.


Penyetopan itu dilakukan bersamaan dengan terbitnya kebijakan merger bank dalam PP nomor 1 tahun 1995 yang memulai mengatur ihwal pendidikan bank..

Sebagai informasi pada 1970, jumlah bank swasta lebih dari 130 buah. Jumlah tersebut dinilai Rachmat Saleh terlalu banyak sehingga perlunya adanya eksekusi.


Untuk mendorong bank nasional tersebut, Rachmat Saleh merumuskan aspek pembinaan dan pengawasan bank terhadap empat pokok. Pertama, swasta diarahkan kepada penyehatan.

Kedua, bank-bank pemerintah didorong berperan dalam pembangunan ekonomi melalui fasilitasi KLBI. Ketiga bank di luar hanya dibatasi di Jakarta dan keempat semua bank didorong memobilisasi dan masyarakat melalui Tababas/Tasca.

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com