Revaluasi Yuan Tak Bantu Defisit AS

Revaluasi Yuan Tak Bantu Defisit AS

- detikFinance
Sabtu, 23 Jul 2005 12:07 WIB
Jakarta - Revaluasi yuan yang dilakukan Cina memang diyakini membantu secara mulus ketidakseimbangan transaksi perdagangan yang terjadi di pasar global. Namun kebijakan tersebut nampaknya tidak memberikan dampak yang besar terhadap pengurangan defisit perdagangan Amerika.Selain karena tingkat revaluasi sebesar 2,1 persen dianggap kecil, besarnya masalah ekonomi AS dari dalam negeri mereka, diyakni hanya bisa dipecahkan oleh para pembuat ekonomi negeri Paman Sam itu.Meski kebijakan Cina melepaskan yuan sudah diadopsi sejak tahun 1996, namun kebijakan revaluasi Yuan cukup mengejutkan karena sebelumnya People's Bank of China (PBoC) telah berulangkali menyangkal akan melakukan revaluasi untuk memenuhi tekanan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Cina merevaluasi nilai tukar yuan menjadi 8,11 per dolar AS dari sebelumnya 8,2765 per dolar AS yang tidak berubah dalam 11 tahun terakhir. Menurut Zhou Xiaochuan, Gubernur People's Bank of China (PBoC), kebijakan pertama yang diumumkan publik tersebut adalah upaya untuk mengantisipasi pasar keuangan jangka panjang.Pada kesempatan yang sama, Cina membatalkan pematokan mata uang untuk jangka panjang terhadap dolar dan mengubahnya menjadi sistem mengambang terkendali dengan mengacu pada sejumlah mata uang."Pasca perubahan nilai tukar, akan memberikan peluang kepada perusahaan ekspor untuk menaikkan harganya. Itu bisa membantu mengoreksi ketidakseimbangan perdagangan di pasar global dalam perjalanannya," kata Zhou seperti dikutip Reuters, Sabtu (23/7/2005).Cina, menurut Zhou, telah berupaya keras mengubah sistem mata uangnya, namun hal itu bukan karena adanya tekanan asing, tapi karena Cina ingin mengembangkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.Dia mengatakan, kebijakan Cina itu telah menurunkan nilai dolar terhadap Yuan, dan melepas patokannya karena mata uang AS telah menjadi begitu volatil dalam beberapa tahun terakhir ini. "Volatilitas mata uang AS ini juga sebagai bagian untuk menggambarkan ekonomi Amerika yang sedang bermasalah, termasuk besarnya perdagangan dan defisit anggaran, yang mana Washington seharusnya memecahkannya," kata Zhou.Pimpinan Bank Sentral Cina itu juga mengaku sependapat dengan analisis Gubernur Federal Reserve Alan Greenspan. Analisa Greenspan mengatakan, perubahan mata uang Yuan tidak memberikan perbedaan terhadap defisit perdagangan AS yang mencetak rekor tertingginya sebesar US$ 617,6 miliar pada tahun lalu. Dari total jumlah defisit tersebut, defisit perdagangan AS dengan Cina mencapai US$ 162 miliar. "Revaluasi Yuan memang akan membantu defisit perdagangan AS tetapi dampaknya sangat kecil karena ekonomi AS begitu besar," kata Zhou. Ekonomi Cina, menurutnya, hanya satu banding tujuh dari begitu besarnya ekonomi AS.Zhou menjelaskan, terdapat keuntungan yang besar atas fleksibilitas mata uang terhadap perekonomian Cina. Dengan adaya sejumlah perangkat sistem akan membawa tanggung jawab perubahan setiap hari dalam nilai yuan, dan mengurangi ketidakpastian usaha. Maka itu, Zhou mendesak kepada bank-bank dan perusahaan lokal untuk menaikkan dan menjadi tantangan agar menjadi lebih fleksibel terhadap kepentingan usaha mereka. Cina menegaskan akan terus menjaga yuan pada 8,11 per dollar AS dengan toleransi 0,3 persen naik atau turun, dan 1,5 persen untuk mata uang lainnya. Namun, kalangan pasar menilai, yuan akan terus menguat mencapai 15 persen pada akhir tahun 2006. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads