Follow detikFinance
Jumat, 06 Jul 2018 16:29 WIB

Kunjungi Hutan Mangrove, Bos Bank Dunia Bicara soal Sampah Plastik

Ardian Fanani - detikFinance
Foto: Ardian Fanani Foto: Ardian Fanani
Denpasar - Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, mengunjungi Taman Hutan Raya Ngurah Rai, atau lebih dikenal dengan Mangrove Information Center (MIC) di kawasan Suwung Kauh, Denpasar, Bali.

Setelah sibuk berkeliling, rombongan Presiden Bank Dunia yang didampingi oleh Menteri Koodinator (Menko) Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan; Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati; Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo; dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono ini, menggelar rapat tertutup bersama dengan anak-anak muda berbagi pengalaman untuk mengubah dunia yang ramah dengan lingkungan.

Jim Yong Kim menyampaikan bahwa kehadirannya di Mangrove Information Center adalah untuk membicarakan topik lingkungan.


Video Luhut dan sejumlah menteri berkeliling bersama Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim ke hutan mangrove bisa disaksikan di bawah.

[Gambas:Video 20detik]


Menurut Kim, selama ini banyak yang beranggapan jika masalah lingkungan adalah masalah segelintir orang saja. Orang awam mengatakan jika kebersihan lingkungan hanya penting untuk pariwisata. Padahal menurutnya lebih dari itu.

"Orang-orang mengatakan bahwa lingkungan itu penting buat pariwisata, sebenarnya lebih dari itu. Padahal tidak. Bersihnya lingkungan itu juga kebutuhan seluruh kehidupan manusia," katanya saat press conference dengan awak media, Jumat (6/7/2018).

Kim mencontohkan banyaknya penggunaan plastik mengakibatkan tercemarnya lingkungan. Selanjutnya, plastik itu pun juga mencemari tubuh manusia, saat manusia mengkonsumsi ikan yang sudah memakan plastik-plastik tersebut.

"Kita tahu plastik-plastik ini, sering masuk ke lautan dan kemudian terurai dan dimakan oleh ikan dan ujung-ujungnya itu kita makan juga, sehingga plastik itu masuk ke tubuh kita," imbuhnya.



Presiden Kim juga menjelaskan, penanganan persoalan lingkungan sebesar ini, membutuhkan pendekatan yang utuh dan terpadu. Salah satunya adalah pendekatan ekonomi.

"Ekonomi itu komponennya banyak sekali, semua harus terlibat dalam ekonomi. Kalau orang mengatakan ini hanya soal pengelola ekonomi, namun pergerakan dari ekonomi juga adalah masalah lingkungan dan lain-lainnya," ujarnya. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed