Temasek Ikut Lagi Penawaran Saham Bank Danamon
Rabu, 03 Agu 2005 14:06 WIB
Jakarta - Meski sudah menguasai 66 persen saham Bank Danamon, Temasek tampaknya belum puas. Perusahaan investasi pemerintah Singapura ini pun kembali mengikuti divestasi saham lanjutan atas 10,5 persen saham pemerintah di Bank Danamon. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan Jusuf Anwar di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (3/8/2005). Menurut Jusuf, selain Temasek, sejumlah investor juga mengincar saham Bank Danamon ini. Saat ini saham Bank Danamon dikuasai oleh Asia Financial Indonesia Pte. Ltd (AFI) yang memiliki 66 persen. Pemegang saham AFI adalah Temasek Holdings (Pte) Ltd. dan Deutsche Bank AG. Lebih jauh Jusuf mengungkapkan alasan pemerintah melepas kepemilikannya di Bank Danamon. Menurutnya, keputusan itu diambil dengan melihat momentum yang dinilai cukup tepat yakni saat harga dan peminatnya cukup bagus. Alasan lain pemerintah menjual sahamnya di Bank Danamon adalah untuk menambah kas negara. "Jadi kita anggap ini bisa untuk menambal penerimaan APBN, sehingga kita anggap kita harus segera masuk ke pasar," ungkapnya.Dengan momentum yang baik itu, lanjut Jusuf, maka pemerintah berniat menjual lagi kepemilikannya di sejumlah bank antara lain di BCA. Namun penjualan saham itu dilakukan khusus untuk yang sudah mengantongi izin dari DPR."Melihat momentum saat ini, saham perbankan harus dijual karena pricing-nya sedang bagus dan peminatnya banyak," tegas Jusuf.Jusuf menambahkan, seluruh proses penjualan saham Bank Danamon diharapkan dapat selesai pada awal minggu depan. Saat ini tengah dilakukan proses book building sehingga saham Bank Danamon telah disuspensi di BEJ. Pemerintah melalui PPA masih memiliki sejumlah kepemilikan saham antara lain di BCA (5,02 persen), Bank Permata (26,17 persen), Bank Lippo (1,5 persen), BII (5,53 persen), Bank Tabungan Pensiunan Nasional (28,39 persen), MayBank Indocorp (6,08 persen), Bank Panin (0,0005 persen).Divestasi BCAJusuf juga mengungkapkan, pemerintah berniat untuk melego saham BCA pada tahun ini mengingat harga saham BCA yang sedang baik."Ya, kita akan jual tahun ini, untuk menambah penerimaan. BCA kan harganya tinggi. Jadi menurut saya bagus untuk menambal defisit," katanya.Pemerintah pada 23 Maret lalu membatalkan penjualan 5,02 persen sahamnya di BCA dengan alasan tidak berhasil memperoleh harga yang optimal dan tidak berhasil memperolah premium.
(qom/)











































