Kerja sama BCSA ini sebelumnya berlaku efektif selama tiga tahun ini. Melalui BCSA kedua negara memungkinkan untuk melakukan swap mata uang lokal antara kedua bank sentral senilai A$10 miliar atau Rp 100 triliun.
Kesepakatan tersebut dilakukan saat rangkaian pelaksanaan pertemuan gubernur bank sentral Executives' Meeting of East Asia-Pacific (EMEAP) di Manila, pada 5 Agustus 2018 kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi tidak usah pakai US$ tapi pakai mata uang lokal masing-masing bisa. Kemudian di-swap-kan oleh bank sentral masing-masing negara," terangnya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (9/8/2018).
Dengan kesepakatan tersebut, BI dan RBA berharap dapat mengurangi ketergantungan penggunaan mata uang tertentu. Apalagi di Indonesia dari total perdagangan yang ada 86,5% masih menggunakan US$.
"Bahkan untuk perdagangan ekspor 95% masih pakai US$, untuk impor 76% masih pakai US$. Jadi hegemoni US$ masih sangat kental dalam transaksi keuangan kota," tambahnya.
Lantaran masih besarnya penggunaan mata uang US$ di Indonesia, maka setiap kali terjadi gejolak di perekonomian global yang membuat likuiditas dolar AS semakin menurun membuat mata uang Rupiah terus melemah.
Saksikan juga video 'Penguatan Nilai Dolar Tak Pengaruhi Jumlah Penukar Uang':
(das/eds)











































