BI: Rupiah Bisa Kembali ke Rp 9.500
Kamis, 04 Agu 2005 12:51 WIB
Jakarta - Kendati nilai rupiah saat ini mencapai Rp 9.700 per dolar AS, namun Bank Indonesia memperdiksikan nilai rupiah akan menguat lagi ke level Rp 9.500. Penguatan nilai rupiah ini akan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal."Rupiah bisa menguat Rp 9.500 atau lebih tapi tergantung pada faktor eksternal. Revaluasi yuan sendiri tidak ada dampaknya pada nilai rupiah," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono dalam acara seminar The Strategic Role of Exim Bank in Boosting National Economic di Gedung Bank Indonesia (BI), Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (4/8/2005).Salah satu faktor eksternal itu adalah harga minyak dunia. Tapi kenaikan harga minyak dunia saat ini belum bisa mendongkrak nilai tukar rupiah, walaupun Indonesia masih menjadi negara pengekspor minyak. Soalnya Indonesia masih harus mengimpor BBM dari negara lain. Masyarakat harus diberi pengetahuan bahwa sistem nilai tukar di Indonesia memakai sistem nilai tukar mengambang yang nilainya tidak dapat dipatok. "Oleh karenanya kita serahkan semuanya pada demand dan supply. Jika harga minyak akan tinggi maka permintaan valas akan tinggi juga," kata Hartadi. Nilai tukar rupiah, kata Hartadi, akan naik jika Indonesia menggenjot investasi asing di dalam negeri untuk mengimbangi impor. "Impor kapital harus naik untuk mengimbang impor material," tutur Hartadi.Dengan demikian maka Indonesia akan mengalami surplus sehingga nilai tukar rupiah menguat. "Kelihatannya akan seperti itu sehingga pertumbuhannya akan lebih tinggi. Dan cara untuk mempertahankannya adalah dengan meningkatkan ekspor," urai Hartadi. Salah satu cara untuk meningkatkan ekspor adalah dengan meningkatkan peran bank yang khusus untuk masalah ini. Sayangnya, sekarang pihak perbankan belum banyak yang bisa berperan karena perbankan di Indonesia lebih banyak berperan di short term. "Makanya harus difokuskan peran bank di sektor ini (ekspor)," tandasnya.
(mar/)











































