Follow detikFinance
Kamis, 16 Agu 2018 20:35 WIB

Kenapa Kenaikan Bunga Acuan BI Tak Bikin Rupiah Perkasa?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Bank Indonesia (BI) kemarin telah meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% dari sebelumnya 5,25%. Kenaikan diharapkan bisa meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas aman.

Namun, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah tercatat masih di kisaran Rp 14.614. Sementara itu dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada pagi hari dolar tercatat Rp 14.619.


Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menjelaskan hal tersebut terjadi karena tekanan terhadap rupiah dari global masih cukup besar.

"Suku bunga yang kita naikkan itu sudah relatif membantu dari mengurangi pelemahan yang lebih dalam untuk rupiah. Memang kita tidak bisa melihat langsung dampaknya, tapi ada sinyal positif dan itu sudah diterima pasar," ujar Dody di komplek DPR RI, Jakarta, Kamis (16/8/2018).

Dia menyebutkan pasar keuangan menerima sinyal tersebut dan investor asing juga memberikan respons dan apresiasi dengan langkah yang diambil oleh pemerintah dan BI.

"Memang ada tekanan besar dari eksternal dan kita tetap ada untuk menjaga di pasar melalui kombinasi intervensi secara gradual," ujarnya.


Namun jika depresiasi tersebut terjadi di luar struktur fundamental, maka BI akan melakukan intervensi untuk menstabilkan. Menurut Dody, saat ini, intervensi yang dilakukan sudah sesuai dengan mekanisme pasar. Dody menjelaskan saat ini nilai tukar rupiah berada di bawah fundamentalnya.

"Ya kita melihat sekarang ini belum pada fundamentalnya, sehingga perlu melakukan intervensi. Kita akan terus menjaga yang penting adalah volatilitas yang selalu disesuaikan dengan target kita," ujarnya. (kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed