Terdepresiasi 0,83% Selama Juli, Tekanan Rupiah Belum Surut

Terdepresiasi 0,83% Selama Juli, Tekanan Rupiah Belum Surut

- detikFinance
Rabu, 10 Agu 2005 10:00 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah masih dalam tekanan kendati Bank Indonesia (BI) menaikkan BI rate menjadi 8,75 persen untuk mengimbangi kenaikan suku bunga Fed menjadi 3,5 persen. Pelaku pasar justru mencemaskan tingginya harga minyak dunia yang dikhawatirkan membawa dampak bagi melemahnya ekonomi Indonesia yang separuh minyaknya adalah impor. Selain itu permintaan yang besar dari Pertamina juga akan mengancam kembali pasar valas. Pada awal perdagangan Rabu (10/8/2005), rupiah stabil di level Rp 9.792 per dolar AS. Sementara pada perdagangannya kemarin, rupiah melemah hingga level Rp 9.795 per dolar AS. BI mencatat, rupiah selama Juli 2005 mengalami depresiasi, dan secara rata-rata bulanan mencapai Rp 9.810 per dolar AS atau melemah 0,83 persen dari bulan sebelumnya. BI menilai, pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dari sisi fundamental, tekanan pada kinerja neraca pembayaran, terutama akibat meningkatnya harga minyak dunia dan meningkatnya impor bahan baku dan barang modal, menyebabkan meningkatnya permintaan valas di dalam negeri. Dengan masih terbatasnya pasokan valas dari kinerja ekspor dan FDI, kesenjangan antara permintaan dan penawaran valas memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS secara global sehubungan dengan kenaikan suku bunga di Amerika ikut mendorong pelemahan rupiah. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads