Follow detikFinance
Jumat, 12 Okt 2018 17:14 WIB

OJK Andalkan Fintech Kelola UMKM dan Keuangan Syariah

Rizki Ati Hulwa - detikFinance
Foto: OJK Foto: OJK
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini sangat mengandalkan teknologi finansial (fintech) untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Tak hanya untuk mengembangkan UMKM, tapi OJK juga menggunakan fintech untuk memperluas cakupan dan mewujudkan tujuan keuangan syariah.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida mengatakan alasannya mengandalkan fintech karena fintech memiliki tingkat penyebaran tinggi sehingga bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat terutama yang tak memiliki akses keuangan seperti UMKM. Selain itu, agar bisa mengelola risiko usaha agar perlindungan konsumen tetap menjadi prioritas.

"Dengan layanan dan produknya yang lebih mudah, fintech dapat mendorong industri keuangan Islam maju dan mengatasi masalah yang telah menghambat pertumbuhan keuangan syariah," kata Nurhaida dalam keterangannya, Jumat (12/10/2018).


Dikatakan Nurhaida, UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian negara karena mencakup 60% dari lapangan kerja dan menyumbang hingga 40% terhadap produk domestik bruto (PDB). Di tahun 2016 kata dia, 99% perusahaan yang dikategorikan sebagai UMKM menciptakan 89% lapangan pekerjaan dan memberi kontribusi 57% ke PDB.

Lebih lanjut, secara umum UMKM dianggap unbankable karena keterbatasan jaminan. Maka akses terhadap pendanaan jadi kendala utama untuk pertumbuhan ke depan.

Nurhaida pun menjelaskan keuangan syariah adalah salah satu pendanaan alternatif untuk mengisi celah keuangan tersebut karena mengedepankan standar etika dan sosial bersifat tanggung renteng. Oleh karenanya, pemerintah mengeluarkan berbagai ketentuan pengaturan dan pengawasan untuk mengembangkan fintech sembari tetap memprioritaskan perlindungan konsumen, serta menjaga stabilitas keuangan.

Demi mendukung itu semua, OJK juga mendirikan Fintech Center bernama OJK Infinity sebagai bentuk dorongan untuk fintech dan menjadi wadah diskusi antar pelaku, regulator dan stakeholders.


Data dari Fintech Report 2017 mencatat di Indonesia ada sekitar 196 perusahaan rintisan (startup) fintech dengan total investasi mencapai Rp 2.681 triliun yang disertai dengan produk maupun bisnis model baru. Sedangkan di Agustus 2018, setidaknya 70 perusahaan fintech pinjaman antar rekan (peer-to-peer lending) di Indonesia dengan akumulasi pinjaman Rp 11,68 triliun atau tumbuh 355,73% secara year-to-date (ytd).

Untuk jumlah rekening pemberi pinjaman, juga tumbuh 48,66% menjadi 150.061 entitas, sementara rekening peminjam meningkat tajam 611,10% menjadi 1.846.273 entitas. (mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed