Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 12 Nov 2018 17:44 WIB

Banyak Negara Berlomba Naikkan Suku Bunga

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: CNBC Foto: CNBC
Jakarta - Tren kenaikan bunga acuan bank sentral di dunia sedang terjadi. Bank Indonesia (BI) menyebutkan ini karena adanya gejolak pada ekonomi global.

Kepala Grup Hubungan Internasional BI Wahyu Pratomo menjelaskan misalnya kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) telah memicu bank sentral di negara lain ikut menaikkan suku bunganya sebagai bentuk respon dalam memberikan daya tarik di pasar keuangan.

Menurut dia, jika bank sentral di negara lain tidak merespon kenaikan suku bunga The Fed, maka akan menimbulkan tekanan pasar keuangan di negara tersebut. Hal ini sejalan dengan imbal hasil di negeri Paman Sam tersebut lebih menarik dibanding dengan imbal hasil di negara lain.

"Jika tidak diimbangi bank sentral lain maka akan menjadi tertekan. Maka, mau tak mau bank sentral lain ikut naikkan suku bunganya, ini salah satu alasan agar daya tarik pasar keuangan juga tetap terjaga," kata Wahyu dalam seminar di FEB UI, Depok, Senin (12/11/2018).


Dia menjelaskan BI sebagai salah satu bank sentral yang menerapkan tren itu. Di mana sejak Mei 2018 hingga bulan September 2018, BI telah menaikkan suku bunganya sebanyak 150 bps menjadi 5,75%, sebagai langkah menjaga daya tarik pasar keuangan domestik sehingga dapat memperkuat ketahanan eksternal RI.

Tidak hanya negara berkembang seperti Indonesia saja yang akan menaikkan suku bunga acuannya, negara maju lainnya juga akan ikut menaikkan suku bunganya, seperti Kanada dan Swedia yang diprediksi akan melakukannya pada akhir tahun 2018.

Di sisi lain, pemicu terjadinya tendency monetary policy war antar Bank Sentral di dunia ini yakni adanya ketidakpastian global yang begitu tinggi. Pada umumnya, investor akan mencari safe haven currency atau mata uang yang aman ketika ketidakpastian di pasar uang meningkat.

Sekedar informasi uang dolar AS merupakan mata uang yang paling aman karena mata uang Negeri Paman Sam tersebut merupakan reserve currency di dunia. Di mana, sekitar 60% cadangan devisa negara-negara di dunia disimpan dalam bentuk dolar AS. (kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed