Suku Bunga Tinggi, Pengusaha Ritel Khawatir Konsumsi Tertahan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 21 Nov 2018 14:23 WIB
Foto: CNBC
Jakarta - Pengusaha ritel bakal terkena dampak dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Sebagaimana diketahui BI telah menaikkan 7 days reverse repo rate menjadi 6%.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menerangkan, kenaikan suku bunga acuan ini memiliki dampak dua sisi. Satu sisi positif karena bisa menekan defisit transaksi berjalan.

"Kalau tidak naikkan dolar tidak akan ngerem, sementara defisit transaksi berjalan naik lagi," kata dia di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Di sisi lain, kenaikan suku bunga bisa berdampak pada konsumsi meski tidak langsung. Dia menerangkan, kenaikan suku bunga berdampak positif dari sisi tabungan. Namun, dari sisi pinjaman negatif lantaran bunga pinjaman akan naik.

"Naiknya BI rate dari sisi savings bagus, tapi dari sisi lending juga berdampak naik juga. Pinjaman ini yang terkena masyarakat, mereka harus mengeluarkan angsuran, pembayaran yang lebih dari sebelumnya," terangnya.

Artinya, kata dia, masyarakat mengeluarkan uang lebih untuk membayar angsuran bunga. Dari situ, konsumsi bisa tertahan.

"Ketika mengeluarkan lebih, konsumsi akan mereka tahan. Mereka kompensasi pembayaran tambahan bunga itu," ungkapnya.

Sebab itu, dia berharap, pemerintah serta pemangku kepentingan terkait segera mencari solusi untuk mengatasi suku bunga tinggi ini. Sehingga, bank-bank tidak sempat menyesuaikan suku bunga acuan.


"Kita harapkan tidak berlangsung lama, harus ada solusi lain, kan ada kebijakan moneter, fiskal apa yang juga akan meredam situasi ini. Sehingga tidak suku bunga tinggi, tapi bunga yang berimbang. Jangan terlalu lama. Kalau tidak terlalu lama, bank tidak akan adjust suku bunga," jelasnya.

"2-3 bulan kita harapkan adjust lagi, jangan 6% naik lagi, pasti bank menyesuaikan suku bunga pinjaman," tambahnya.

Lebih lanjut, Roy mengatakan, bisnis ritel sendiri masih terpantau positif hingga saat ini. Sampai akhir tahun, transaksi ritel diproyeksi naik sampai 10% dibanding tahun sebelumnya.

Tahun lalu, transaksi ritel sekitar Rp 215 triliun. Pada akhir tahun ini diharapkan mencapai Rp 240 triliun.

"Tahun lalu sekitar tumbuh 7% Rp 215 triliun. Kalau tahun ini 10% tambah Rp 21 triliun, lumayan bisa Rp 240 triliun. Mudah-mudahan, kita lihat Natal dan Tahun Baru," ungkapnya.

Positifnya bisnis ritel tak lepas dari berbagai gelaran internasional yang digelar tahun ini. Kemudian, adanya Pilkada, dana desa, kebijakan menahan harga energi, serta inflasi yang terjaga.

"Yang penting inflasi terjaga. Itu yang membuat lebih baik dari tahun lalu," tutupnya.

(fdl/fdl)