BI Didesak Tempuh Kebijakan Inkonvensional Atasi Rupiah

BI Didesak Tempuh Kebijakan Inkonvensional Atasi Rupiah

- detikFinance
Senin, 29 Agu 2005 17:31 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) diminta untuk mengambil langkah moneter inkonvensional untuk mengatasi terus melemahnya rupiah. Langkah konvensional dengan menaikkan suku bunga maupun melepas cadangan devisa dinilai tidak akan mampu memperbaiki keadaan."Kebijakan moneter konvensional yang diambil BI melalui suku bunga dan cadangan devisa terbukti tidak efektif menjaga kestabilan rupiah," kata Direktur International Centre for Applied Finance and Economics (Inter CAFE) IPB Iman Sugema dalam jumpa pers di sebuah restoran di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (29/8/2005).Dijelaskan Iman, kebijakan moneter konvensional yang diambil BI hanya akan menambah beban pemerintah. Kenaikan suku bunga akan semakin memberatkan utang dalam negeri pemerintah dan berpengaruh negatif terhadap sektor riil, perbankan dan kesehatan fiskal pemerintah. Sedangkan penurunan cadangan devisa yang terlalu drastis akan mengakibatkan penurunan kepercayaan diri dalam melakukan stabilisasi. "Kenaikan suku bunga satu persen saja akan menambah beban pemerintah sebesar Rp 4 triliun," kata Iman. Untuk mengatasi masalah tersebut, Inter CAFE mengusulkan tiga langkah inkonvensional untuk BI dalam mengatasi depresiasi rupiah. Langkah tersebut antara lain melalui penyerapan likuiditas dengan meningkatkan giro wajib minimum (GWM), melakukan langkah administratif untuk mengawasi transaksi valas dan membatasi transaksi valas. Penyerapan dengan GWM dimaksudkan untuk mencegah kenaikan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang akan membebani pemerintah. Namun penggunaan GWM ini diakui juga akan menghilangkan pendapatan perbankan dari penempatan di SBI. GWM juga akan menurunkan net interest margin. "Solusinya bank harus menurunkan suku bunga tabungan dan meningkatkan suku bunga kredit," kata Iman. Untuk langkah administrtif dilakukan dengan inspeksi mendadak (scrutiny), audit, kewajiban pelaporan rencana transaksi sebelumnya dan kewajiban meminta izin kepada BI. Hal ini dimaksudkan agar BI dapat mencegah transaksi valas yang dilakukan dengan dasar spekulasi. "Karena yang terjadi adalah self fulfilling prophecy. Pelaku pasar memperkirakan akan terjadi depresiasi sehingga mereka bersama-sama menukar ke dolar akibatnya depresiasi benar-benar terjadi," ujar Iman.langkah terakhir adalah melalui pembatasan jumlah dan waktu transaksi. Inter CAFE menyarankan agar BI membatasi batas maksimum transaksi menjadi US$ 100 ribu. Dari segi waktu, hanya transaksi kecil saja yang dilakukan sepanjang hari. Sedangkan transaksi besar dibatasi dalam sesi setengah hari. Pemerintah juga harus bisa melakukan penghentian transaksi sementara jika terjadi depresiasi berlebihan dalam sehari. Penghentian itu dilakukan terutama pada pihak-pihak yang paling aktif melakukan transaksi. "Penghentian ini akan memberi kesempatan pada pelaku pasar untuk mengevaluasi mengapa tekanan permintaan mendadak besar. Ini akan mengurangi tekanan terhadap rupiah," tegas Iman. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads