Bank Sentral Jepang dan Korea Suntik Cadangan Devisa RI
Selasa, 30 Agu 2005 13:28 WIB
Jakarta - Pelaku pasar saham dan pasar uang mendapat angin segar dengan santernya berita yang menyebutkan Bank of Japan dan Bank of Korea menyuntikkan dana ke Indonesia sebesar US$ 6 miliar."Ini berita yang paling menggembirakan, semua pelaku pasar sudah mengetahui masuknya dana dari Bank Sentral Jepang dan Bank Sentral Korea sebesar US$ 6 miliar," kata Ferry Latuhihin, Chief Economist Bank Internasional Indonesia (BII), Selasa (30/8/2005).Dana dari kedua bank sentral itu menurut Ferry, sudah mulai masuk hari ini sebagai penyangga cadangan devisa Indonesia. Ini terlihat dari mulai tertahannya rupiah yang pada posisi pagi sempat menembus hampir ke level Rp 12.000 per dolar AS. Demikian juga indeks harga saham gabungan (IHSG) yang pada pembukaan pagi masih anjlok 43,560 poin, pada penutupan sesi satu menguat 9,352 poin pada level 1.004,122. "Dana tersebut hanya bersifat buffer, jadi tidak langsung masuk cadangan devisa ini seperti crash program antar bank sentral," ujar Ferry.Saat ini cadangan devisa Indonesia sekitar US$ 32 miliar turun dari posisi April 2005 yang masih di level US$ 36 miliar. Menurut buffer masuknya dana dari Bank Sentral Jepang dan Korea memberikan sentimen positif di tengah terpuruknya kondisi makro ekonomi Indonesia. "Ini berita bagus karena rupiah dan saham sudah kelewatan turunnya," katanya.Seberapa lama dana tersebut bisa menahan kepanikan pasar, Ferry mengaku tidak tahu. Pasalnya, hal ini akan tergantung dari pergerakan harga minyak dunia. "Kalau minyak naik terus, kebutuhan Pertamina tentunya makin tinggi dan ini cukup mengkhawatirkan," ujar Ferry.Dijelaskan Ferry, negara seperti Korea dan Jepang memiliki kepentingan yang besar terhadap ekonomi Indonesia. "Jadi mereka turut berpartisipasi karena tidak mau Indonesia hancur untuk melindungi kepentingannya juga," katanya.
(qom/)











































